Pada hari ini tepat tiga tahun yang lalu, aku telah resmi mendapatkan gelar akademik Ahli Madya (A.Md) dari Akademi Bahasa Asing Sinema Yogyakarta. Saat itu, aku tidak menyangka bahwa aku bisa mendapatkan gelar Wisudawan Teladan karena menurutku tidak ada yang spesial dari kuliahku. Aku tidak pernah menceburkan diri sebagai aktivis kampus maupun kegiatan senat mahasiswa. Waktuku di kampus hanya untuk kuliah dan mengerjakan tugas. IPK-ku saat itu juga bukan IPK cumlaude, yaitu 3,42. Mungkin saat itu, aku dinilai pantas mendapatkan gelar itu karena aku bisa menyelesaikan Tugas Akhirku tepat pada waktunya. Memang sih saat itu, aku bisa menyelesaikan Tugas Akhirku tepat pada waktunya. Aku menyelesaikan Tugas Akhirku selama 6 bulan (Februari-Agustus 2016). Tugas Akhirku di-acc sama dosen pun pada tanggal 18 Agustus 2016, tepat dua hari setelah aku berulangtahun yang ke-23. Maka dari itu, Tugas Akhir itu aku anggap sebagai kado ulang tahunku saat itu, kado ulang tahun yang tidak umum. Seharusnya aku bisa wisuda pada tahun itu juga. Tetapi karena teman-temanku yang lainnya ada yang belum selesai, akhirnya akupun harus menunggu kurang lebih satu tahun. Tapi tidak apa-apalah. Yang penting kuliahku saat itu aku anggap sudah selesai dan tinggal menunggu prosesi wisuda. Pada tanggal 21 Oktober 2017, akupun akhirnya memakai toga dan selempangan bertuliskan "Wisudawan Teladan". Perjuanganku selama 6 bulan bergelut dengan tulis-menulis dan penelitian pun akhirnya tidak sia-sia. Meskipun IPK-ku tidak cumlaude, aku tetap bangga. Dan saat ini, ilmu yang aku pelajari saat kuliah di jurusan D3 Bahasa Inggris dulu bisa bermanfaat dengan bekerja sebagai guru les privat Bahasa Inggris. Terima kasih bapak, ibu, bapak/ibu dosen, teman-teman seperjuangan; yang saat aku menulis tulisan ini sudah banyak yang menikah; terima kasih atas dukungan kalian. Tanpa dukungan itu, mungkin saat ini aku tak berarti apa-apa. Buat teman-teman seperjuanganku saat itu yang sekarang sudah berkeluarga seperti Dian, Resty, Prita, dik Putri, Ashri, dik Anas, mas Edi, mas Tama (istri Ashri), Shyu dan Ahsan (wisudawan dan wisudawati yang baru saja menjadi pasangan suami istri), semoga keluarga kalian sakinah, mawadah, wa rahmah. Semoga kalian membaca ini. Terima kasih.
Total Tayangan Halaman
Rabu, 21 Oktober 2020
Jumat, 04 September 2020
Aku dan sepupuku
Aku punya sepupu laki-laki, bernama Budi Gunawan (namanya seperti polisi yang beberapa tahun yang lalu sempat viral). Ada yang memanggilnya Budi, ada juga yang memanggilnya Gunawan atau Gugun (kalau aku manggilnya mas Gun sih). Dia adalah anak dari alm. pakdhe Wahyudi. Bapaknya adalah kakak dari bapakku, tetapi sayangnya pada tanggal 9 Desember 2018 beliau telah dipanggil Yang Maha Kuasa karena sakit yang telah lama dideritanya. Aku dan mas Gun telah akrab sejak lama sebelum kami memiliki seorang adik. Usia kami terpaut empat tahun dan aku lebih tua darinya tetapi aku memanggilnya dengan sebutan mas karena dia anaknya pakdhe. Karena adikku seorang perempuan, maka aku lebih sering main sama mas Gun apalagi kalau waktu main musik. Aku main drum sambil nyanyi, sedangkan mas Gun yang main gitar. Karena kebetulan di rumahnya saat itu ada dua alat musik yaitu drum dan gitar. Sesekali dia juga pernah mencoba bermain drum. Jauh sebelum itu, kamipun menghabiskan masa kecil kami dengan menonton film kartun karena saat itu film kartun masih banyak ditayangkan di televisi. Tahun 2005, bapaknya membeli sebuah drumset. Seharusnya drumsetnya untuk dia belajar bermain drum, tetapi dia malah senang main gitar. Akhirnya, diam-diam pun aku mencoba memainkan drum itu yang akhirnya akupun senang dan ingin memainkannya terus. Dari situlah akhirnya aku belajar drum secara otodidak bergantian dengan mas Gun. Saat aku dan dia sedang senang-senangnya belajar drum, tiba-tiba ada gempa besar tanggal 27 Mei 2006. Rumahku dan rumahnya mas Gun pun jadi korbannya, tetapi drumnya pun tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Akhirnya kamipun tidak bermain drum untuk sementara waktu. Keakraban kamipun semakin erat saat itu. Kami pernah tidur satu tenda di tenda yang kecil saat itu di tempat saudara yang ada di Belan. Tenda itu sempit karena ditempati beberapa orang, yaitu keluarganya budhe Harti, budhe Nastiti, mas Gun, mas Pitra, dan aku. Pagi itu sekitar jam 04.30 pada tanggal 28 Mei 2006, hujan sangat deras dan airpun masih bisa masuk ke dalam tenda karena saking derasnya. Beruntung pagi itu, bapakku datang dan menjemputku sehingga aku terbebas dari desakan orang-orang di tenda itu. Bapakku pun juga mengajak mas Gun untuk ikut tetapi dia tidak mau. Akhirnya hanya aku saja yang bebas dari sempitnya tenda itu dan bisa tiduran di depan rumahku sendiri sambil mendengarkan radio kecilku. Saat aku sunat pada tanggal 7 Juli 2006, dia pun datang membesuk. Padahal saat itu aku sunatnya di Condongcatur, tempat simbahku yang saat ini aku tempati. Dua tahun kemudian, kamipun bermain band dengan mengajak tetangganya mas Gun yang kebetulan juga kakak adik. Mas Gun sebagai gitaris, sedangkan aku sebagai drummer. Dan dua orang kakak adik itu yang bernama Wahyu dan Bangkit sebagai gitaris dan bassist. Kami berempat pun latihan setiap malam Minggu karena saat itu kami masih sekolah. Mas Gun kelas 6 SD, aku kelas 2 SMP (harusnya aku kelas 1 SMA sih, tapi karena dulu pernah nggak naik kelas waktu kelas 3 SD jadi masih kelas 2 SMP), Wahyu kelas 2 SMP, dan Bangkit kelas 3 SD (kalau nggak salah, soalnya aku sedikit lupa). Lagu-lagu yang kami bawakan pun adalah lagu-lagu populer pada tahun itu seperti lagu-lagu dari The Changcuters, ST 12, dll. Saat aku kelas 1 SMA pada tahun 2010, kamipun sudah tidak ngeband bareng lagi, dan akupun sudah tidak menginap di rumahnya mas Gun lagi. Meskipun begitu, aku masih suka main ke rumahnya karena aku tidak hanya akrab dengan mas Gun, tetapi juga dengan bapaknya. Aku sering sharing apapun yang aku tahu dengan pakdheku itu, kadang juga main gitar sampai sore. Sekarang, mas Gun sudah lulus kuliah dan kalau malam jualan Thai Tea di Taman Kuliner Ngangkruksari (bekas pasar Ngangkruk). Aku sering beli Thai Tea-nya dulu saat aku habis latihan band. Sayangnya saat dia wisuda beberapa bulan yang lalu sebelum pandemi Covid-19, bapaknya sudah tidak ada. Aku merasa bersyukur saat aku wisuda D3 pada tanggal 21 Oktober 2017 lalu karena aku masih didampingi oleh orang tua yang utuh. Saat bapaknya meninggal, akupun juga ikut merasakan kehilangan karena sekitar tahun 2017, aku pernah main band sama pakdhe Wahyudi. Beliau sebagai vokalisnya dan aku sebagai gitarisnya. Tetapi kebersamaan itu tidak lama karena pada awal 2018, aku tinggal di Condongcatur menemani mbah uti yang tinggal sendiri pasca wafatnya mbah kakung pada tanggal 3 Januari 2018, dan pakdhe Wahyudi pun sakitnya tambah parah sesaat sebelumnya sudah beberapa kali melakukan operasi pengangkatan tumor di kakinya. Mas Gun pun saat ini selalu membantu bandku saat ada acara manggung. Dia selalu menjadi tukang dokumentasi. Itulah keakrabanku dengan mas Gun sebagai saudara. Sekarang kita sama-sama sudah beranjak dewasa dan punya urusan masing-masing, tetapi keakraban kita selalu ada.
Jumat, 21 Agustus 2020
Lagu anak-anak yang sangat populer di tahun 1990-an sampai tahun 2000-an
Saat ini, lagu anak-anak memang jarang sekali terdengar di televisi maupun radio. Semua media tersebut dipenuhi oleh lagu-lagu orang dewasa yang bertemakan cinta. Tidak hanya lagu, film kartun pun seolah-olah pun hilang dari televisi. Saat ini film kartun pun yang tersisa hanya Doraemon dan Upin dan Ipin. Beruntunglah kita yang mengalami masa anak-anak pada tahun 2000-an, karena banyak sekali lagu anak-anak yang terdengar di televisi maupun radio saat itu. Saat itu, teknologi belum berkembang seperti sekarang. Belum ada media sosial, YouTube, maupun media-media lain yang bersifat digital. Berikut lagu anak-anak yang populer pada tahun 1990-an dan 2000-an.
1. Sherina - Kembali Ke Sekolah
Minggu, 16 Agustus 2020
Cerita hidupku
Tepat pada hari ini tahun 1993, aku dilahirkan di Kabupaten Bantul. Namaku Nurrahman Fadholi, dulu waktu SD sampai SMA, aku dipanggil sesuai dengan nama belakangku. Hal itu karena aku merasa nyaman saat guruku waktu SD memanggilku dengan nama tersebut. Lama-kelamaan, akupun bosan dipanggil dengan nama itu lagi dan akhirnya saat aku kuliah, aku dipanggil dengan nama yang sesuai dengan nama depanku, atau hanya dipanggil Nur saja. Pendidikanku dimulai dari TK Masyithoh Greges sekitar tahun 1998. Pada saat aku masuk TK, krisis moneter sedang melanda Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Untungnya saat itu ayahku tidak terkena imbas dari krisis moneter itu karena ayahku seorang pegawai negeri. Setelah lulus dari TK pada tahun 2000, akupun masuk SD Negeri 2 Kretek. Saat bersekolah di SD itu, aku pernah tidak naik kelas pada saat aku duduk di kelas 3. Saat itu, teman-temanku rata-rata pada naik ke kelas 4 sedangkan aku bersama tiga temanku yang lain masih tetap di kelas 3. Untungnya aku mengalami tinggal kelas hanya sekali. Akhirnya saat kenaikan kelas tahun depan pada tahun 2004, aku dinyatakan naik ke kelas 4. Dan itu berlanjut sampai aku naik ke kelas 6. Pada saat aku kelas 5, terjadi sebuah bencana gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya. Rumah dan sekolahku pun tak luput dari bencana itu. Akhirnya kegiatan belajar mengajar pun diliburkan sampai sekitar pertengahan bulan Juni 2006. Sekitar pertengahan bulan Juli 2006, akupun masuk sekolah lagi setelah sekian lama diliburkan karena kenaikan kelas dan bencana gempa bumi 5,9 SR yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kondisi sekolahku pun berubah akibat bencana itu. Karena kelasku rusak parah, kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak kelas 6 pun dipindahkan ke ruang kelas 3, dan anak-anak kelas 3 pun sebagian belajar di tenda. Pada bulan Mei 2007, akupun mengikuti Ujian Nasional dan sekitar bulan Juli 2007, semua siswa yang saat itu berjumlah 32 orang dinyatakan lulus semua. Setelah lulus SD, akupun mendaftarkan diri di MTs Negeri Pundong (sekarang MTs Negeri 2 Bantul). Di sekolah itu, akupun menemukan hobi yang aku minati sampai saat ini, yaitu musik. Saat bersekolah di sekolah itu, akupun menjadi penabuh drum dalam beberapa pementasan sekolah. Lagu-lagu yang dibawakannya pun adalah lagu-lagu yang sedang populer kala itu seperti lagunya Peterpan, Kangen Band, ST 12, dll. Akupun lulus dari sekolah itu sekitar bulan Juni 2010 meskipun dengan ujian ulangan, bukan kejar paket B karena aku saat itu tidak lulus lantaran nilaiku yang Matematika dan IPA jeblok. Tetapi alhamdulillah aku bisa memperbaikinya. Pada bulan Juli 2010, aku masuk SMA Negeri 1 Kretek. Di sekolah itu, hobiku nge-band pun masih menggebu-gebu. Akupun menemukan teman yang juga main band yaitu Cahyo dan Febri. Mereka sering mengajakku main musik dikala pulang sekolah. Aku nge-band sama mereka pun sampai kami lulus dari sekolah itu pada bulan Juni 2013. Setelah lulus dari SMA, akupun melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Karena hobiku yang main musik itu, orang tuaku pun mendaftarkanku di ISI Yogyakarta, tetapi akhirnya gagal karena persaingan yang ketat. Akhirnya setelah aku mempertimbangkan masak-masak, aku mendaftarkan diri di ABA Sinema Yogyakarta (sekarang Universitas Amikom Purwokerto PSDKU Yogyakarta) pada bulan Agustus 2013. Disitulah aku belajar Bahasa Inggris dan membuat film, mulai dari penulisan cerita sampai tahap produksi. Tahun 2016, akupun dinyatakan lulus dan satu tahun kemudian pada tanggal 21 Oktober 2017, aku diwisuda dan meraih gelar Ahli Madya (A.Md). Dan mulai tahun 2017 sampai sekarang, aku menjadi mahasiswa di Universitas Terbuka. Tepat pada hari ini, aku berulang tahun yang ke-27.
Jumat, 14 Agustus 2020
Pengalamanku berfoto dengan bapak Sri Sultan Hamengkubuwono X
![]() |
| Aku bersama pak Sri Sultan HB X, gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus raja Kesultanan Yogyakarta di Balairung UGM. |
Tahun lalu pada tanggal 14 Agustus, aku mengikuti sebuah acara Aubade Pancasila di Balairung UGM. Aubade itu diikuti oleh banyak peserta dari beberapa kelompok paduan suara. Saat itu, aku masih tergabung dalam kelompok Paduan Suara Mahasiswa (PSM) dari kampus Universitas Terbuka. Kebetulan tamu dalam acara tersebut adalah salah satunya pak Sri Sultan Hamengkubuwono X (kalau kalian orang asli Jogja pasti tahulah siapa beliau). Acara tersebut berlangsung sekitar jam 3 sore dan berakhir kira-kira jam 4. Saat acara itu berakhir, akupun mengejar pak Sultan yang saat itu sudah berlalu untuk minta foto. Karena beliau tergesa-gesa dan tidak ada orang yang bisa dimintai tolong untuk mengambil gambar, akhirnya akupun hanya selfie dengan beliau. Fotonya bisa kalian lihat di atas. Untungnya beliau bisa meluangkan waktu untuk berfoto denganku, salah satu warga beliau yang tinggal di Kabupaten Sleman, meskipun KTP-nya masih KTP Kabupaten Bantul. Uniknya, pada saat itu lagi-lagi aku berfoto dengan seorang gubernur karena pada tahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 12 Agustus 2018, aku berfoto dengan pak Rano Karno. Tetapi saat itu, pak Rano Karno sudah tidak menjabat sebagai Gubernur Banten lagi karena sudah main film Si Doel lagi. Ini sangatlah membanggakan bagiku karena jarang-jarang ada warga bisa berfoto dengan seorang gubernur. Tidak hanya aku, teman-temanku pun juga. Bahkan, anak-anak SD pun juga berfoto dengan beliau. Tidak hanya berfoto dengan gubernur, tetapi juga berfoto dengan pak menteri. Menteri yang berfoto denganku yaitu pak Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika. Tetapi sayangnya fotonya ada di handphone temanku dan aku lupa untuk memintanya. Mungkin saat ini sudah dihapus. Akhirnya kesampaian juga angan-anganku untuk bisa bertemu dengan pak Sri Sultan Hamengkubuwono X. Memang dulu aku pernah berangan-angan untuk bertemu dengan raja Yogyakarta sekaligus orang nomor satu di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan pada acara itulah, akhirnya aku bisa bertemu dengan pak Sri Sultan. Baik segitu dulu ya. Mungkin akan ada pengalaman lain yang bisa aku tulis disini. Sampai jumpa.
Kamis, 13 Agustus 2020
Senangnya bisa foto bareng Jikustik
Siapa disini yang tidak tahu grup band Jikustik? Aku kira pasti semuanya tahu. Grup band itu pernah populer dengan lagu hits yang berjudul Maaf, Seribu Tahun Lamanya, Pandangi Langit Malam Ini, dan Puisi pada era 2000-an awal sampai pertengahan. Saat itu, vokalis Jikustik masih diduduki oleh Pongki Barata, dan pemain bass masih diduduki oleh Aji Mirza Hakim atau Icha. Mereka berdualah yang menciptakan mayoritas hits-hits Jikustik. Sayangnya mereka berdua telah hengkang dari grup band asal Yogyakarta itu. Pongki keluar pada tahun 2009, sedangkan Icha keluar pada tahun 2012. Setelah keluarnya Pongki, posisi vokalis diisi oleh Brian Prasetyoadi, penyanyi baru asal Jogja. Posisi bassist yang dulu ditempati oleh Icha masih ditempati oleh additional bassist yang bernama Abadi Bayu. Pada tanggal 31 Desember 2019 silam, Dinas Pariwisata Sleman ingin membuat acara untuk menyemarakkan malam pergantian tahun dari tahun 2019 ke 2020 dengan Jikustik sebagai bintang tamunya. Saat itu, Dispar sedang mencari band pendamping untuk Jikustik. Akhirnya bandku yang bernama Miracle Of Destruction atau M.O.D pun ditunjuk sebagai salah satu band pendamping Jikustik. Aku tidak menyangka kalau bandku bisa menjadi band pendamping dari sebuah band yang melegenda di Yogyakarta maupun Indonesia. Selain itu, akupun bisa berfoto dengan mereka beberapa saat setelah bandku main dan sebelum Jikustik main. Akhirnya bisa juga aku berfoto dengan grup musik yang aku kagumi saat SD. Aku pernah memiliki kasetnya Jikustik album Seribu Tahun. Andai saja kasetnya itu masih ada, pasti bisa aku bawa saat acara itu sekalian aku mintakan tanda tangan kepada Adhit, Dadik, dan Carlo (personil Jikustik yang masih aktif dari album pertama sampai sekarang). Tetapi sayangnya kaset itu sudah hilang entah kemana karena sudah 19 atau 20 tahun yang lalu aku memilikinya.
| Dari kiri ke kanan : Haly (panitia penyelenggara), Pam (bassist M.O.D), Pras (vokalis M.O.D), Brian (vokalis Jikustik), Carlo (drummer Jikustik), Adhit (keyboardist Jikustik), Nur (drummer M.O.D) |
Minggu, 02 Agustus 2020
Friendster saat ini hanya tinggal kenangan saja
![]() |
| Pemberitahuan bahwa Friendster tidak dapat diakses. |




