Aku punya sepupu laki-laki, bernama Budi Gunawan (namanya seperti polisi yang beberapa tahun yang lalu sempat viral). Ada yang memanggilnya Budi, ada juga yang memanggilnya Gunawan atau Gugun (kalau aku manggilnya mas Gun sih). Dia adalah anak dari alm. pakdhe Wahyudi. Bapaknya adalah kakak dari bapakku, tetapi sayangnya pada tanggal 9 Desember 2018 beliau telah dipanggil Yang Maha Kuasa karena sakit yang telah lama dideritanya. Aku dan mas Gun telah akrab sejak lama sebelum kami memiliki seorang adik. Usia kami terpaut empat tahun dan aku lebih tua darinya tetapi aku memanggilnya dengan sebutan mas karena dia anaknya pakdhe. Karena adikku seorang perempuan, maka aku lebih sering main sama mas Gun apalagi kalau waktu main musik. Aku main drum sambil nyanyi, sedangkan mas Gun yang main gitar. Karena kebetulan di rumahnya saat itu ada dua alat musik yaitu drum dan gitar. Sesekali dia juga pernah mencoba bermain drum. Jauh sebelum itu, kamipun menghabiskan masa kecil kami dengan menonton film kartun karena saat itu film kartun masih banyak ditayangkan di televisi. Tahun 2005, bapaknya membeli sebuah drumset. Seharusnya drumsetnya untuk dia belajar bermain drum, tetapi dia malah senang main gitar. Akhirnya, diam-diam pun aku mencoba memainkan drum itu yang akhirnya akupun senang dan ingin memainkannya terus. Dari situlah akhirnya aku belajar drum secara otodidak bergantian dengan mas Gun. Saat aku dan dia sedang senang-senangnya belajar drum, tiba-tiba ada gempa besar tanggal 27 Mei 2006. Rumahku dan rumahnya mas Gun pun jadi korbannya, tetapi drumnya pun tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Akhirnya kamipun tidak bermain drum untuk sementara waktu. Keakraban kamipun semakin erat saat itu. Kami pernah tidur satu tenda di tenda yang kecil saat itu di tempat saudara yang ada di Belan. Tenda itu sempit karena ditempati beberapa orang, yaitu keluarganya budhe Harti, budhe Nastiti, mas Gun, mas Pitra, dan aku. Pagi itu sekitar jam 04.30 pada tanggal 28 Mei 2006, hujan sangat deras dan airpun masih bisa masuk ke dalam tenda karena saking derasnya. Beruntung pagi itu, bapakku datang dan menjemputku sehingga aku terbebas dari desakan orang-orang di tenda itu. Bapakku pun juga mengajak mas Gun untuk ikut tetapi dia tidak mau. Akhirnya hanya aku saja yang bebas dari sempitnya tenda itu dan bisa tiduran di depan rumahku sendiri sambil mendengarkan radio kecilku. Saat aku sunat pada tanggal 7 Juli 2006, dia pun datang membesuk. Padahal saat itu aku sunatnya di Condongcatur, tempat simbahku yang saat ini aku tempati. Dua tahun kemudian, kamipun bermain band dengan mengajak tetangganya mas Gun yang kebetulan juga kakak adik. Mas Gun sebagai gitaris, sedangkan aku sebagai drummer. Dan dua orang kakak adik itu yang bernama Wahyu dan Bangkit sebagai gitaris dan bassist. Kami berempat pun latihan setiap malam Minggu karena saat itu kami masih sekolah. Mas Gun kelas 6 SD, aku kelas 2 SMP (harusnya aku kelas 1 SMA sih, tapi karena dulu pernah nggak naik kelas waktu kelas 3 SD jadi masih kelas 2 SMP), Wahyu kelas 2 SMP, dan Bangkit kelas 3 SD (kalau nggak salah, soalnya aku sedikit lupa). Lagu-lagu yang kami bawakan pun adalah lagu-lagu populer pada tahun itu seperti lagu-lagu dari The Changcuters, ST 12, dll. Saat aku kelas 1 SMA pada tahun 2010, kamipun sudah tidak ngeband bareng lagi, dan akupun sudah tidak menginap di rumahnya mas Gun lagi. Meskipun begitu, aku masih suka main ke rumahnya karena aku tidak hanya akrab dengan mas Gun, tetapi juga dengan bapaknya. Aku sering sharing apapun yang aku tahu dengan pakdheku itu, kadang juga main gitar sampai sore. Sekarang, mas Gun sudah lulus kuliah dan kalau malam jualan Thai Tea di Taman Kuliner Ngangkruksari (bekas pasar Ngangkruk). Aku sering beli Thai Tea-nya dulu saat aku habis latihan band. Sayangnya saat dia wisuda beberapa bulan yang lalu sebelum pandemi Covid-19, bapaknya sudah tidak ada. Aku merasa bersyukur saat aku wisuda D3 pada tanggal 21 Oktober 2017 lalu karena aku masih didampingi oleh orang tua yang utuh. Saat bapaknya meninggal, akupun juga ikut merasakan kehilangan karena sekitar tahun 2017, aku pernah main band sama pakdhe Wahyudi. Beliau sebagai vokalisnya dan aku sebagai gitarisnya. Tetapi kebersamaan itu tidak lama karena pada awal 2018, aku tinggal di Condongcatur menemani mbah uti yang tinggal sendiri pasca wafatnya mbah kakung pada tanggal 3 Januari 2018, dan pakdhe Wahyudi pun sakitnya tambah parah sesaat sebelumnya sudah beberapa kali melakukan operasi pengangkatan tumor di kakinya. Mas Gun pun saat ini selalu membantu bandku saat ada acara manggung. Dia selalu menjadi tukang dokumentasi. Itulah keakrabanku dengan mas Gun sebagai saudara. Sekarang kita sama-sama sudah beranjak dewasa dan punya urusan masing-masing, tetapi keakraban kita selalu ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar