Total Tayangan Halaman

Selasa, 19 Oktober 2021

Cara menjadi penulis lepas di platform media IDN Times

 Apakah kalian memiliki hobi menulis dan ingin menjadi penulis? Di era digital seperti sekarang, menulis sudah bisa dilakukan melalui media online. Banyak situs web yang menyediakan layanan untuk para penulis yang menginginkan tulisannya dipublikasi dan dibaca oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini. IDN Times merupakan salah satu portal berita dan hiburan yang sasaran pembacanya adalah anak muda. Para anak muda pun tidak hanya jadi pembaca, namun anak muda juga bisa menjadi penulis di media online itu. Apakah menulis di IDN Times ada honornya? Tentu saja. Namun, kalian harus mengumpulkan poin minimal 2.500 poin untuk mendapatkan uang sebesar 250.000 rupiah. Untuk mendapatkan satu poin, maka artikel yang kalian tulis ini harus mendapatkan 100 kali view, itupun kalau ditayangkan. Jadi, bagaimana caranya untuk menjadi penulis lepas di IDN Times? Begini caranya.

  1. Kalian harus mendaftarkan diri kalian dulu melalui website www.idntimes.com. Lalu, kalian akan mendapatkan link untuk konfirmasi melalui e-mail yang kalian daftarkan.
  2. Setelah berhasil mendaftar dan dikonfirmasi, mulailah kalian untuk menulis.
Lalu, tema untuk tulisan yang diterima apa saja? Tema tulisannya pun bebas. Lalu, bagaimana caranya agar tulisan kalian bisa ditayangkan? Begini caranya.

  1. Tulislah artikel dengan tema yang berhubungan dengan anak muda, misalnya apa yang saat ini sedang viral di kalangan anak muda. Jika kalian menulis tentang apa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, tentu tulisan kalian akan mendapatkan peluang untuk ditayangkan.
  2. Buatlah tulisan dengan ide orisinil kalian sendiri. Jangan memplagiasi tulisan orang lain. Karena jika memplagiasi tulisan orang lain, maka tulisan kalian tidak akan ditayangkan.
  3. Carilah tema tulisan yang sedikit unik dan belum pernah ditayangkan di IDN Times, misalnya tentang lagu-lagu tahun 1990-an. Anak muda saat ini juga ada lho yang suka sama lagu-lagu di tahun 1990-an seperti lagu-lagunya Nike Ardilla. Beberapa hari yang lalu, saya menulis tentang lagu-lagu Nike Ardilla dan akhirnya ditayangkan.
  4. Selain mencari tema yang unik, perhatikanlah kaidah penulisannya. Kalian jangan menganggap bahwa nanti tulisanku akan diperbaiki sama editor. Editor memanglah memperbaiki tulisan kalian, tetapi editor hanya memperbaiki kesalahan kecil pada tulisan kalian seperti penggunaan tanda baca, kesalahan penulisan, dan kalimat tidak efektif menjadi efektif. Jika tulisan kalian masih memiliki kesalahan yang banyak, maka editor akan meminta kalian untuk merevisinya sampai benar-benar tidak ada kesalahan lagi. Jadi, editor ini bisa jadi seperti dosen pembimbing skripsi kalian.
  5. Jika tulisan kalian belum ditayangkan meskipun sudah lewat beberapa hari, bersabarlah! Mungkin tema tulisan yang kalian angkat kurang menarik di mata editor. Teruslah menulis. Semakin banyak tulisan kalian, maka semakin banyak juga pilihan untuk ditayangkan.
Itulah beberapa cara menjadi penulis sekaligus tips-tips agar tulisan kalian dimuat dari saya. Yang jelas sebelum kalian menulis, kalian harus menentukan tema tulisan apa yang ingin kalian angkat. Selamat menulis.

Rabu, 14 Juli 2021

Pengalamanku saat tes swab antigen

 Pada hari ini tanggal 14 Juli 2021, aku menjalani tes swab antigen di Rumah Sakit Condong Catur. Hal ini aku lakukan karena sejak beberapa hari yang lalu aku mengalami batuk yang tak kunjung sembuh. Aku sempat mengira bahwa aku terinfeksi virus Corona mengingat saat ini sudah banyak orang yang terinfeksi virus yang datang dari China itu. Akhirnya jam 8.30, aku berangkat ke Puskesmas Depok II yang tak jauh dari tempat tinggalku, yakni di Perumnas Condongcatur. Namun, sayangnya puskesmas itu tidak melayani test swab mandiri. Puskesmas itu hanya melayani tes swab untuk orang yang pernah berpapasan dengan orang yang terinfeksi Covid-19. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan mencoba menelepon Rumah Sakit Condong Catur (RSCC) untuk menanyakan apakah rumah sakit itu melayani tes swab secara mandiri. Ternyata, rumah sakit itu melayani tes swab secara mandiri. Akupun lalu mengeluarkan sepeda motorku dari dalam rumah dan pergi menuju RSCC. Sesampainya di rumah sakit itu, aku lalu menunggu sejenak sambil mendengarkan musik di handphone-ku. Waktu menunjukkan pukul 9.42. Petugas yang akan bertugas melayani tes swab pun baru mempersiapkan peralatannya. Pasien yang akan tes swab pun diminta untuk mendaftar terlebih dahulu. Karena aku tidak mendaftar lewat online, akupun mendaftar disitu. Setelah semuanya beres, akupun lalu menunggu panggilan di ruang tunggu. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya akupun dipanggil dan tes swab pun dimulai. Sebuah alat yang mirip dengan cotton bud pun masuk ke lubang hidungku sebelah kiri. Rasanya pun seperti tidak mengenakan dan membuatku ingin bersin. Ternyata tidak lama kemudian, tes swab pun selesai. Akupun lalu pulang untuk menunggu hasilnya. Sesampainya di rumah, akupun tidur karena mataku terasa mengantuk sekali. Saat terdengar adzan dzuhur, akupun membuka mata. Aku lihat di handphone-ku ada pesan WhatsApp masuk dan ternyata itu pesan dari rumah sakit tempat aku tes swab tadi. Pesan itu memberitahukan bahwa hasil tes swab tadi dinyatakan negatif. Akupun lalu bergegas bangun dan sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur, akupun kembali lagi ke rumah sakit itu untuk mengambil hard copy hasil test swab tadi. Betapa leganya hatiku saat aku membaca hasilnya yang menyatakan bahwa aku negatif Covid-19.

Saat aku menunggu antrian tes swab


Jumat, 16 April 2021

Selamat ulang tahun, bapak

 


Hari ini, bapakku berulangtahun yang ke-56, usia yang hampir mendekati kepala enam. Meski begitu, bapakku masih memiliki semangat untuk bekerja demi aku dan adik perempuanku. Rasanya, ingin aku saja yang bekerja karena tak lama lagi bapakku sudah memasuki masa pensiun dari pekerjaannya sebagai guru. Biar aku saja yang menggantikan posisi beliau, tetapi keadaannya belum memungkinkan. Studi S1-ku belum selesai sedangkan lapangan pekerjaan yang memerlukan tenaga lulusan D3 Bahasa Inggris masih minim. Ini yang kadang aku sesalkan kenapa dulu waktu sekolah aku sangat malas belajar sehingga aku pernah sekali tidak naik kelas. Teman-teman seusiaku saat ini sudah banyak yang menikah, bahkan rata-rata yang usianya di bawahku semua. Aku ingin sekali bisa memberikan seorang menantu yang cantik untuk bapakku, tetapi apalah daya. Pekerjaanku masih sebatas guru les privat panggilan yang gajinya tidak cukup jika untuk kebutuhan keluargaku nanti. Berbeda kalau menjadi dosen di universitas dan guru di sekolah yang gajinya bisa untuk kebutuhan sehari-hari karena sistem kerjanya tidak freelance. Menulis pun rasanya juga tidak bisa diandalkan untuk menjadi profesi utama. Sudah banyak tulisanku yang tidak dimuat oleh media massa entah karena tidak memenuhi persyaratan. 

Maafkan aku pak jika aku belum bisa membanggakanmu. Namun aku akan berusaha untuk menyelesaikan kuliahku ini kemungkinan di usiaku yang ke-28 tahun pada tahun ini. Selamat ulang tahun ya pak. Semoga Allah memberikan panjang umur dan kesehatan kepada bapak.

Aku bersama bapakku. Foto ini diambil kira-kira tahun 1994, saat aku berusia kira-kira 1 tahun.


Kamis, 18 Februari 2021

Gagal nonton D'Masiv

D'Masiv

Pada hari ini sekitar tahun 2008, grup musik tersohor kala itu yang bernama D'Masiv mengadakan konser di Yogyakarta. Konser itu diadakan di Pyramid Cafe (sekarang Museum History of Java) yang berada di Jl. Parangtritis Sewon Bantul. Aku yang mengetahui acara itu dari koran ataupun pamflet pun ingin menontonnya. Memang saat itu, grup band yang digawangi oleh Rian (vokal), Kiki dan Rama (gitar), Ray (bass), dan Wahyu (drum) ini sedang populer dengan lagu "Cinta Ini Membunuhku". Saking populernya lagu itu, teman cewek satu kelasku saat itu (maaf, bukan pacar lho) pernah menuliskan lirik lagu tersebut di buku tulisku. Aku tak tahu apa maksudnya karena saat itu aku masih polos belum mengerti apa arti dalam lagu itu. Mengetahui hal itu, aku langsung meminta bapakku untuk mengantarkanku menonton konser itu beberapa hari sebelumnya karena saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 1 SMP dan belum diperbolehkan mengendarai sepeda motor sendiri. Akhirnya tiba pada saat harinya, aku pergi dengan bapakku dan adikku yang saat itu masih berusia 8 tahun. Ketika tiba di lokasi, aku melihat masih terlihat ada sedikit orang dan diatas panggung sedang ada checksound. Tak lama kemudian, langit terlihat sedikit gelap dan awan hitam pun menyelimuti langit itu. Rupanya, akan turun hujan waktu itu. Bapakku pun mengajakku untuk pulang karena kasihan jika adikku yang masih kecil itu kalau nantinya kehujanan saat konser berlangsung nanti. Sebagai gantinya, bapakku pun membelikan aku sebuah CD dari D'Masiv yang dijual di lapak kaset CD yang ada di pinggir jalan. Akhirnya akupun bisa menikmati lagu-lagu dari D'Masiv saat itu termasuk lagu yang sedang populer kala itu, Cinta Ini Membunuhku.

Video klip D'Masiv - Cinta Ini Membunuhku

Selasa, 16 Februari 2021

Cerita dibalik lagu-lagu karanganku

Selain aku berprofesi sebagai mahasiswa ataupun pengajar, aku juga seorang penulis lagu meskipun tidak setenar lagu-lagu karya Ahmad Dhani, Bebi Romeo ataupun Eross Candra sih yang sudah menjadi hits di tanah air. Meskipun lagu-lagu karanganku tidak setenar lagu-lagu karangan mereka, namun lagu-lagu karyaku sendiri juga tak kalah menarik untuk dinikmati oleh para pengguna internet. Selain itu, lagu-lagu karyaku ini kebanyakan berdasarkan dari kisah nyataku sendiri. Berikut lagu-lagu karyaku yang berdasarkan dari pengalaman pribadi sang penulis.

1. Duduk Berdua



Lagu ini aku ciptakan pada akhir tahun 2015 hingga awal tahun 2016. Lagu ini aku tulis berdasarkan pengalamanku pada saat mengobrol dengan mahasiswi baru sekitar tahun 2015 yang akhirnya membuat aku ingin mengungkapkan cinta kepada dia namun hatiku saat itu ragu. Beberapa saat kemudian saat dia menengok jam tangannya, dia berkata bahwa dia akan dijemput oleh pacarnya. Seketika akupun memutuskan untuk tidak menembak dia karena dia sudah ada yang punya.

2. Maafkanlah Aku Ini


Lagu ini aku ciptakan sekitar bulan April 2017. Lagu ini menceritakan tentang betapa tidak enaknya dicuekin seseorang. Pada saat itu, aku sedang duduk di bekas kantin kampus sambil akses internet menggunakan laptop. Saat itu, ada seorang mahasiswi yang lewat di depanku. Mahasiswi itu lalu aku panggil dengan sebutan "dik" karena kebetulan dia adalah adik angkatanku. Tetapi saat dia aku panggil, dia tetap saja berjalan tanpa menoleh ke wajahku ataupun menjawab sapaanku.

3. Selamat Jalan Sahabatku


Lagu ini adalah lagu yang masih baru beberapa hari yang lalu aku ciptakan. Lagu ini aku ciptakan setelah aku mendengar kabar berita bahwa seorang penyiar radio yang aku kenal saat masih bersiaran di Jogja telah meninggal dunia di Bali, karena di tempat itu beliau untuk terakhir kalinya berkarir di dunia broadcasting. Untuk mengenangnya, aku putuskan untuk menulis lagu tentangnya.

Itulah beberapa lagu karyaku yang aku sebarluaskan di dunia maya. Buat kalian yang ingin mendengarkan, silahkan bisa klik linknya disini. Sekian dan terima kasih.