Total Tayangan Halaman
Selasa, 05 April 2022
Pengalaman lucu di bulan Ramadhan waktu kecil
Rabu, 09 Februari 2022
Virus Corona telah menyerang keluargaku
Pada hari ini, 9 Februari 2022, merupakan hari yang tidak terduga bagiku. Hari ini rencananya mbah uti (nenekku) seharusnya sudah opname di Rumah Sakit Akademik UGM karena keesokan harinya akan dilakukan operasi agar jantungnya tidak bocor lagi. Setelah sampai di rumah sakit, kami langsung test swab antigen. Aku juga ikut test swab dikarenakan aku akan menunggui mbah uti pada malam hari itu juga. Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 7 pagi karena jam 8 harus sampai di sana. Aku berangkat sama mbah uti dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh bapakku. Namun setelah sampai di tempat pendaftaran, berkas yang akan digunakan oleh mbah uti untuk persyaratan opname ketinggalan. Akupun lalu mengambilnya dengan diantarkan oleh bapak. Setelah aku mengambil berkas persyaratan yang diperlukan, aku dan bapakku pun lalu mampir sejenak ke warung Padang untuk sarapan karena kebetulan sedari rumah aku belum sarapan. Setelah selesai sarapan, perjalanan berlanjut ke rumah sakit. Di sana, mbah uti masih menunggu berkas yang diperlukan ditemani oleh mbak Dewi (bibiku yang kebetulan bekerja sebagai perawat di rumah sakit itu).
Setelah berkas lengkap semua, akhirnya aku dan mbah uti langsung diantarkan menuju tempat untuk test swab yang berada di belakang rumah sakit, tepatnya di seberang parkiran mobil. Kami pun akhirnya melakukan test swab. Setelah test swab, akupun segera pulang ke rumah untuk mengambil motor dan barang-barang keperluanku untuk bermalam di sana. Namun saat aku mempersiapkan segala keperluanku, aku mendapatkan pesan di grup WhatsApp keluarga dari mbak Dewi bahwa hasil test swab antigen mbah uti menunjukkan positif dan hasil test swab antigenku negatif. Untung saja saat itu, aku masih di rumah dan belum berangkat ke sana karena saat itu, aku menunggu telepon dari mbah uti. Akhirnya, operasinya mbah uti diundur sampai batas waktu yang belum ditentukan. Aku sangat terkejut bahwa virus Corona telah menyerang keluargaku lagi. Setelah adikku terpapar virus yang dari China ini pada bulan Oktober 2021, sekarang mbah uti yang terpapar virus Corona, namun tanpa gejala. Ini ceritaku tentang keluargaku yang terpapar virus Corona. Akupun berusaha untuk tenang dan tidak panik setelah mendengar kabar bahwa mbah uti yang usianya telah mencapai 72 tahun terpapar virus Covid-19. Sekian dulu ya ceritanya. Tetap semangat untuk orang-orang yang terpapar virus Covid-19 dimanapun kalian berada. Semoga lekas pulih bumiku. Tetap lakukan protokol kesehatan ya karena pandemi ini belum berlalu.
Selasa, 19 Oktober 2021
Cara menjadi penulis lepas di platform media IDN Times
Apakah kalian memiliki hobi menulis dan ingin menjadi penulis? Di era digital seperti sekarang, menulis sudah bisa dilakukan melalui media online. Banyak situs web yang menyediakan layanan untuk para penulis yang menginginkan tulisannya dipublikasi dan dibaca oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini. IDN Times merupakan salah satu portal berita dan hiburan yang sasaran pembacanya adalah anak muda. Para anak muda pun tidak hanya jadi pembaca, namun anak muda juga bisa menjadi penulis di media online itu. Apakah menulis di IDN Times ada honornya? Tentu saja. Namun, kalian harus mengumpulkan poin minimal 2.500 poin untuk mendapatkan uang sebesar 250.000 rupiah. Untuk mendapatkan satu poin, maka artikel yang kalian tulis ini harus mendapatkan 100 kali view, itupun kalau ditayangkan. Jadi, bagaimana caranya untuk menjadi penulis lepas di IDN Times? Begini caranya.
- Kalian harus mendaftarkan diri kalian dulu melalui website www.idntimes.com. Lalu, kalian akan mendapatkan link untuk konfirmasi melalui e-mail yang kalian daftarkan.
- Setelah berhasil mendaftar dan dikonfirmasi, mulailah kalian untuk menulis.
- Tulislah artikel dengan tema yang berhubungan dengan anak muda, misalnya apa yang saat ini sedang viral di kalangan anak muda. Jika kalian menulis tentang apa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, tentu tulisan kalian akan mendapatkan peluang untuk ditayangkan.
- Buatlah tulisan dengan ide orisinil kalian sendiri. Jangan memplagiasi tulisan orang lain. Karena jika memplagiasi tulisan orang lain, maka tulisan kalian tidak akan ditayangkan.
- Carilah tema tulisan yang sedikit unik dan belum pernah ditayangkan di IDN Times, misalnya tentang lagu-lagu tahun 1990-an. Anak muda saat ini juga ada lho yang suka sama lagu-lagu di tahun 1990-an seperti lagu-lagunya Nike Ardilla. Beberapa hari yang lalu, saya menulis tentang lagu-lagu Nike Ardilla dan akhirnya ditayangkan.
- Selain mencari tema yang unik, perhatikanlah kaidah penulisannya. Kalian jangan menganggap bahwa nanti tulisanku akan diperbaiki sama editor. Editor memanglah memperbaiki tulisan kalian, tetapi editor hanya memperbaiki kesalahan kecil pada tulisan kalian seperti penggunaan tanda baca, kesalahan penulisan, dan kalimat tidak efektif menjadi efektif. Jika tulisan kalian masih memiliki kesalahan yang banyak, maka editor akan meminta kalian untuk merevisinya sampai benar-benar tidak ada kesalahan lagi. Jadi, editor ini bisa jadi seperti dosen pembimbing skripsi kalian.
- Jika tulisan kalian belum ditayangkan meskipun sudah lewat beberapa hari, bersabarlah! Mungkin tema tulisan yang kalian angkat kurang menarik di mata editor. Teruslah menulis. Semakin banyak tulisan kalian, maka semakin banyak juga pilihan untuk ditayangkan.
Rabu, 14 Juli 2021
Pengalamanku saat tes swab antigen
Pada hari ini tanggal 14 Juli 2021, aku menjalani tes swab antigen di Rumah Sakit Condong Catur. Hal ini aku lakukan karena sejak beberapa hari yang lalu aku mengalami batuk yang tak kunjung sembuh. Aku sempat mengira bahwa aku terinfeksi virus Corona mengingat saat ini sudah banyak orang yang terinfeksi virus yang datang dari China itu. Akhirnya jam 8.30, aku berangkat ke Puskesmas Depok II yang tak jauh dari tempat tinggalku, yakni di Perumnas Condongcatur. Namun, sayangnya puskesmas itu tidak melayani test swab mandiri. Puskesmas itu hanya melayani tes swab untuk orang yang pernah berpapasan dengan orang yang terinfeksi Covid-19. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan mencoba menelepon Rumah Sakit Condong Catur (RSCC) untuk menanyakan apakah rumah sakit itu melayani tes swab secara mandiri. Ternyata, rumah sakit itu melayani tes swab secara mandiri. Akupun lalu mengeluarkan sepeda motorku dari dalam rumah dan pergi menuju RSCC. Sesampainya di rumah sakit itu, aku lalu menunggu sejenak sambil mendengarkan musik di handphone-ku. Waktu menunjukkan pukul 9.42. Petugas yang akan bertugas melayani tes swab pun baru mempersiapkan peralatannya. Pasien yang akan tes swab pun diminta untuk mendaftar terlebih dahulu. Karena aku tidak mendaftar lewat online, akupun mendaftar disitu. Setelah semuanya beres, akupun lalu menunggu panggilan di ruang tunggu. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya akupun dipanggil dan tes swab pun dimulai. Sebuah alat yang mirip dengan cotton bud pun masuk ke lubang hidungku sebelah kiri. Rasanya pun seperti tidak mengenakan dan membuatku ingin bersin. Ternyata tidak lama kemudian, tes swab pun selesai. Akupun lalu pulang untuk menunggu hasilnya. Sesampainya di rumah, akupun tidur karena mataku terasa mengantuk sekali. Saat terdengar adzan dzuhur, akupun membuka mata. Aku lihat di handphone-ku ada pesan WhatsApp masuk dan ternyata itu pesan dari rumah sakit tempat aku tes swab tadi. Pesan itu memberitahukan bahwa hasil tes swab tadi dinyatakan negatif. Akupun lalu bergegas bangun dan sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur, akupun kembali lagi ke rumah sakit itu untuk mengambil hard copy hasil test swab tadi. Betapa leganya hatiku saat aku membaca hasilnya yang menyatakan bahwa aku negatif Covid-19.
![]() |
| Saat aku menunggu antrian tes swab |
Jumat, 16 April 2021
Selamat ulang tahun, bapak
![]() |
| Aku bersama bapakku. Foto ini diambil kira-kira tahun 1994, saat aku berusia kira-kira 1 tahun. |
Kamis, 18 Februari 2021
Gagal nonton D'Masiv
| D'Masiv |


