Total Tayangan Halaman

Jumat, 21 Agustus 2020

Lagu anak-anak yang sangat populer di tahun 1990-an sampai tahun 2000-an

 Saat ini, lagu anak-anak memang jarang sekali terdengar di televisi maupun radio. Semua media tersebut dipenuhi oleh lagu-lagu orang dewasa yang bertemakan cinta. Tidak hanya lagu, film kartun pun seolah-olah pun hilang dari televisi. Saat ini film kartun pun yang tersisa hanya Doraemon dan Upin dan Ipin. Beruntunglah kita yang mengalami masa anak-anak pada tahun 2000-an, karena banyak sekali lagu anak-anak yang terdengar di televisi maupun radio saat itu. Saat itu, teknologi belum berkembang seperti sekarang. Belum ada media sosial, YouTube, maupun media-media lain yang bersifat digital. Berikut lagu anak-anak yang populer pada tahun 1990-an dan 2000-an.


1. Sherina - Kembali Ke Sekolah



2. Tasya - Libur Telah Tiba



3. Joshua - Air



4. Tina Toon - Bolo Bolo



Mana nih lagu favorit kamu waktu kecil? Kalau favoritku sih yang nomor 1. Secara, aku masih punya kasetnya yang nomor 1 dan sampai saat ini masih aku dengarkan karena waktu aku mencari bendera untuk dikibarkan pada awal Agustus lalu, aku tidak sengaja menemukan sebuah kaset tanpa cover yang ternyata itu adalah kaset Sherina yang albumnya berjudul "Andai Aku Besar Nanti", yang aku pinjam dari seseorang yang saat ini orangnya sudah tidak tinggal di Jogja lagi. Anak jaman dulu itu memang kebiasaan kalau sudah pinjam pasti lupa mengembalikan. Silahkan berkomentar mana lagu yang kalian suka dalam daftar ini, atau lagu anak-anak yang lain mungkin.

Minggu, 16 Agustus 2020

Cerita hidupku

Tepat pada hari ini tahun 1993, aku dilahirkan di Kabupaten Bantul. Namaku Nurrahman Fadholi, dulu waktu SD sampai SMA, aku dipanggil sesuai dengan nama belakangku. Hal itu karena aku merasa nyaman saat guruku waktu SD memanggilku dengan nama tersebut. Lama-kelamaan, akupun bosan dipanggil dengan nama itu lagi dan akhirnya saat aku kuliah, aku dipanggil dengan nama yang sesuai dengan nama depanku, atau hanya dipanggil Nur saja. Pendidikanku dimulai dari TK Masyithoh Greges sekitar tahun 1998. Pada saat aku masuk TK, krisis moneter sedang melanda Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Untungnya saat itu ayahku tidak terkena imbas dari krisis moneter itu karena ayahku seorang pegawai negeri. Setelah lulus dari TK pada tahun 2000, akupun masuk SD Negeri 2 Kretek. Saat bersekolah di SD itu, aku pernah tidak naik kelas pada saat aku duduk di kelas 3. Saat itu, teman-temanku rata-rata pada naik ke kelas 4 sedangkan aku bersama tiga temanku yang lain masih tetap di kelas 3. Untungnya aku mengalami tinggal kelas hanya sekali. Akhirnya saat kenaikan kelas tahun depan pada tahun 2004, aku dinyatakan naik ke kelas 4. Dan itu berlanjut sampai aku naik ke kelas 6. Pada saat aku kelas 5, terjadi sebuah bencana gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya. Rumah dan sekolahku pun tak luput dari bencana itu. Akhirnya kegiatan belajar mengajar pun diliburkan sampai sekitar pertengahan bulan Juni 2006. Sekitar pertengahan bulan Juli 2006, akupun masuk sekolah lagi setelah sekian lama diliburkan karena kenaikan kelas dan bencana gempa bumi 5,9 SR yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kondisi sekolahku pun berubah akibat bencana itu. Karena kelasku rusak parah, kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak kelas 6 pun dipindahkan ke ruang kelas 3, dan anak-anak kelas 3 pun sebagian belajar di tenda. Pada bulan Mei 2007, akupun mengikuti Ujian Nasional dan sekitar bulan Juli 2007, semua siswa yang saat itu berjumlah 32 orang dinyatakan lulus semua. Setelah lulus SD, akupun mendaftarkan diri di MTs Negeri Pundong (sekarang MTs Negeri 2 Bantul). Di sekolah itu, akupun menemukan hobi yang aku minati sampai saat ini, yaitu musik. Saat bersekolah di sekolah itu, akupun menjadi penabuh drum dalam beberapa pementasan sekolah. Lagu-lagu yang dibawakannya pun adalah lagu-lagu yang sedang populer kala itu seperti lagunya Peterpan, Kangen Band, ST 12, dll. Akupun lulus dari sekolah itu sekitar bulan Juni 2010 meskipun dengan ujian ulangan, bukan kejar paket B karena aku saat itu tidak lulus lantaran nilaiku yang Matematika dan IPA jeblok. Tetapi alhamdulillah aku bisa memperbaikinya. Pada bulan Juli 2010, aku masuk SMA Negeri 1 Kretek. Di sekolah itu, hobiku nge-band pun masih menggebu-gebu. Akupun menemukan teman yang juga main band yaitu Cahyo dan Febri. Mereka sering mengajakku main musik dikala pulang sekolah. Aku nge-band sama mereka pun sampai kami lulus dari sekolah itu pada bulan Juni 2013. Setelah lulus dari SMA, akupun melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Karena hobiku yang main musik itu, orang tuaku pun mendaftarkanku di ISI Yogyakarta, tetapi akhirnya gagal karena persaingan yang ketat. Akhirnya setelah aku mempertimbangkan masak-masak, aku mendaftarkan diri di ABA Sinema Yogyakarta (sekarang Universitas Amikom Purwokerto PSDKU Yogyakarta) pada bulan Agustus 2013. Disitulah aku belajar Bahasa Inggris dan membuat film, mulai dari penulisan cerita sampai tahap produksi. Tahun 2016, akupun dinyatakan lulus dan satu tahun kemudian pada tanggal 21 Oktober 2017, aku diwisuda dan meraih gelar Ahli Madya (A.Md). Dan mulai tahun 2017 sampai sekarang, aku menjadi mahasiswa di Universitas Terbuka. Tepat pada hari ini, aku berulang tahun yang ke-27.




Jumat, 14 Agustus 2020

Pengalamanku berfoto dengan bapak Sri Sultan Hamengkubuwono X

 

Aku bersama pak Sri Sultan HB X, gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
sekaligus raja Kesultanan Yogyakarta di Balairung UGM.

Tahun lalu pada tanggal 14 Agustus, aku mengikuti sebuah acara Aubade Pancasila di Balairung UGM. Aubade itu diikuti oleh banyak peserta dari beberapa kelompok paduan suara. Saat itu, aku masih tergabung dalam kelompok Paduan Suara Mahasiswa (PSM) dari kampus Universitas Terbuka. Kebetulan tamu dalam acara tersebut adalah salah satunya pak Sri Sultan Hamengkubuwono X (kalau kalian orang asli Jogja pasti tahulah siapa beliau). Acara tersebut berlangsung sekitar jam 3 sore dan berakhir kira-kira jam 4. Saat acara itu berakhir, akupun mengejar pak Sultan yang saat itu sudah berlalu untuk minta foto. Karena beliau tergesa-gesa dan tidak ada orang yang bisa dimintai tolong untuk mengambil gambar, akhirnya akupun hanya selfie dengan beliau. Fotonya bisa kalian lihat di atas. Untungnya beliau bisa meluangkan waktu untuk berfoto denganku, salah satu warga beliau yang tinggal di Kabupaten Sleman, meskipun KTP-nya masih KTP Kabupaten Bantul. Uniknya, pada saat itu lagi-lagi aku berfoto dengan seorang gubernur karena pada tahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 12 Agustus 2018, aku berfoto dengan pak Rano Karno. Tetapi saat itu, pak Rano Karno sudah tidak menjabat sebagai Gubernur Banten lagi karena sudah main film Si Doel lagi. Ini sangatlah membanggakan bagiku karena jarang-jarang ada warga bisa berfoto dengan seorang gubernur. Tidak hanya aku, teman-temanku pun juga. Bahkan, anak-anak SD pun juga berfoto dengan beliau. Tidak hanya berfoto dengan gubernur, tetapi juga berfoto dengan pak menteri. Menteri yang berfoto denganku yaitu pak Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika. Tetapi sayangnya fotonya ada di handphone temanku dan aku lupa untuk memintanya. Mungkin saat ini sudah dihapus. Akhirnya kesampaian juga angan-anganku untuk bisa bertemu dengan pak Sri Sultan Hamengkubuwono X. Memang dulu aku pernah berangan-angan untuk bertemu dengan raja Yogyakarta sekaligus orang nomor satu di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan pada acara itulah, akhirnya aku bisa bertemu dengan pak Sri Sultan. Baik segitu dulu ya. Mungkin akan ada pengalaman lain yang bisa aku tulis disini. Sampai jumpa.

Kamis, 13 Agustus 2020

Senangnya bisa foto bareng Jikustik

 Siapa disini yang tidak tahu grup band Jikustik? Aku kira pasti semuanya tahu. Grup band itu pernah populer dengan lagu hits yang berjudul Maaf, Seribu Tahun Lamanya, Pandangi Langit Malam Ini, dan Puisi pada era 2000-an awal sampai pertengahan. Saat itu, vokalis Jikustik masih diduduki oleh Pongki Barata, dan pemain bass masih diduduki oleh Aji Mirza Hakim atau Icha. Mereka berdualah yang menciptakan mayoritas hits-hits Jikustik. Sayangnya mereka berdua telah hengkang dari grup band asal Yogyakarta itu. Pongki keluar pada tahun 2009, sedangkan Icha keluar pada tahun 2012. Setelah keluarnya Pongki, posisi vokalis diisi oleh Brian Prasetyoadi, penyanyi baru asal Jogja. Posisi bassist yang dulu ditempati oleh Icha masih ditempati oleh additional bassist yang bernama Abadi Bayu. Pada tanggal 31 Desember 2019 silam, Dinas Pariwisata Sleman ingin membuat acara untuk menyemarakkan malam pergantian tahun dari tahun 2019 ke 2020 dengan Jikustik sebagai bintang tamunya. Saat itu, Dispar sedang mencari band pendamping untuk Jikustik. Akhirnya bandku yang bernama Miracle Of Destruction atau M.O.D pun ditunjuk sebagai salah satu band pendamping Jikustik. Aku tidak menyangka kalau bandku bisa menjadi band pendamping dari sebuah band yang melegenda di Yogyakarta maupun Indonesia. Selain itu, akupun bisa berfoto dengan mereka beberapa saat setelah bandku main dan sebelum Jikustik main. Akhirnya bisa juga aku berfoto dengan grup musik yang aku kagumi saat SD. Aku pernah memiliki kasetnya Jikustik album Seribu Tahun. Andai saja kasetnya itu masih ada, pasti bisa aku bawa saat acara itu sekalian aku mintakan tanda tangan kepada Adhit, Dadik, dan Carlo (personil Jikustik yang masih aktif dari album pertama sampai sekarang). Tetapi sayangnya kaset itu sudah hilang entah kemana karena sudah 19 atau 20 tahun yang lalu aku memilikinya.

Dari kiri ke kanan : Haly (panitia penyelenggara), Pam (bassist M.O.D), Pras (vokalis M.O.D),
Brian (vokalis Jikustik), Carlo (drummer Jikustik), Adhit (keyboardist Jikustik), Nur (drummer M.O.D)

Sebenarnya ada banyak sih fotonya. Hanya saja foto yang lain masih tertinggal di handphoneku yang lama, yang 3 bulan sebelum acara itu terjatuh di Kaliurang juga dan lensa kamera belakangnya pecah. Semoga saja handphone itu masih ada dan kemungkinan akan saya cari lagi besok kalau aku pulang ke Bantul lagi. Untuk yang mau lihat fotonya yang lain, bisa kunjungi akun Instagramku di @nurrahmanfadholi. Oke segitu dulu dariku. Terima kasih.

Minggu, 02 Agustus 2020

Friendster saat ini hanya tinggal kenangan saja

Friendster - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sebelum populernya Facebook dan Twitter, Friendster saat itu menjadi satu-satunya jejaring sosial di internet. Friendster pertama kali didirikan pada tahun 2002. Jadi, Friendster bisa dipastikan berdiri lebih dulu daripada Facebook, karena Facebook didirikan pada tahun 2005. Friendster memang kedengarannya sangat asing bagi anak jaman now (kelahiran 2004 ke atas) yang mungkin rata-rata sudah mengenal Facebook, tetapi untuk anak jaman old (kelahiran 1980 s/d 1993) seumuranku mungkin pernah memakainya apalagi yang sering bolak-balik ke warnet. Seperti halnya Facebook, Friendster ini memiliki fitur menambahkan teman dan foto. Saat pertama kali aku menggunakan Friendster pada tahun 2008, akun Friendster-ku belum aku berikan foto profil dikarenakan aku tidak memiliki handphone yang memiliki kamera. Setelah aku memiliki handphone Nokia 3230 pada awal tahun 2009, akupun berfoto dan foto itu aku pasang di akun FS-ku (FS; singkatan Friendster) saat itu. Akhirnya pengguna Friendster lain yang penasaran dengan wajahku pun tahu. Setiap ada moment apapun, akupun mengunggahnya di akun FS-ku tersebut (mungkin kalau sekarang diposting di Instagram). Mengakses akun tersebut pun tidak sesering mengakses Facebook atau Instagram seperti saat ini karena Facebook dan Instagram saat ini sudah tersedia dalam aplikasi smartphone. Mengakses akun Friendster saat itu hanya saat penggunanya berada dalam kawasan yang ada koneksi internetnya. Saat itu yang ada koneksi internet hanyalah warung internet (warnet), dan untuk mengaksesnya pun tidak sebebas sekarang karena saat itu akses internet di warnet memakan biaya 2.000 rupiah per jam. Jadi kalau sudah lebih dari satu jam, maka akan dikenakan biaya tambahan 2 kali lipatnya kalau tambah satu jam lagi. Pada saat lebaran tahun 2009, akupun perlahan-lahan meninggalkan akun Friendster-ku karena aku mulai membuat akun Facebook. Saat itu, memang Friendster juga sudah perlahan-lahan mendapat pesaing yaitu Facebook. Friendster juga perlahan-lahan ditinggalkan oleh penggunanya. Baru saja aku mendapatkan informasi bahwa Friendster saat ini tidak dapat diakses lagi sejak tanggal 14 Juni 2015. Banyak kenangan yang aku lalui bersama Friendster dan tak akan terlupakan.

Pemberitahuan bahwa Friendster tidak dapat diakses.

Baik. Demikian saja cerita dariku tentang Friendster. Terima kasih dan selamat menikmati daging kurbannya.