Total Tayangan Halaman

Kamis, 29 Oktober 2020

Kapan aku bisa seperti mereka yang keinginannya sudah tercapai?

Usiaku sudah menginjak 27 tahun. Di usiaku yang sekarang ini, kadang aku berpikir bahwa ternyata aku tidak seberuntung teman-temanku yang pada usia 27 tahun sudah memiliki pekerjaan tetap, sudah berkeluarga, bahkan sudah memiliki anak sedangkan aku belum. Penghasilanku pun tidak sebanyak mereka. Sebagai guru bahasa Inggris yang hanya menunggu panggilan saja cuma dibayar sesuai dengan jumlah pertemuan. Belum lagi menjadi seorang penulis artikel yang kadang artikelnya pun ditolak, ataupun ditayangkan tetapi hanya dibaca dan tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kepuasan tersendiri karena tulisannya bisa dibaca seluruh Indonesia. Kadang aku melihat mereka, akupun bertanya dalam hati, "Kapan aku bisa seperti teman-temanku yang sudah memiliki pekerjaan tetap dan bisa menafkahi keluarganya?". Kuliah sudah tercapai dan mendapatkan gelar akademik pun telah tercapai, tapi itu belum cukup. Menikah. Itulah yang harus tercapai sebelum usia 30 tahun, tetapi bagaimana itu bisa tercapai jika aku sebagai laki-laki ataupun pemimpin rumah tangga belum punya apa-apa? Andai saja dulu aku kuliah S1 di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, saat ini akupun pasti sudah jadi guru Bahasa Inggris di sekolah-sekolah yang tentu saja gajinya lebih besar daripada guru les privat Bahasa Inggris yang hanya bekerja saat ada panggilan saja. Kadang aku ingin marah jika aku ingat ini. Tetapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Beruntunglah mereka yang lulusan Pendidikan Bahasa Inggris. Mereka pasti saat ini sudah menjadi guru Bahasa Inggris yang mengajarnya setiap Senin sampai Sabtu di sekolah. Rasanya menyesal juga mengapa aku dulu tidak ikut SBMPTN supaya aku bisa berkuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, padahal aku yakin kalau kemampuan bahasa Inggrisku sudah bisa disejajarkan dengan mereka yang lulusan Pendidikan Bahasa Inggris ataupun Sastra Inggris. Berbicara dengan bule saja pun aku bisa, menerjemahkan teks dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia ataupun sebaliknya pun aku juga bisa.

Saat aku baca lowongan guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah milik organisasi islam Muhammadiyah, sebenarnya aku ingin mengisi lowongan itu, tetapi apalah daya aku hanya punya ijazah D3 Bahasa Inggris sedangkan yang dibutuhkan adalah lulusan S1. Inginku teriak sekencang-kencangnya di Parangtritis atau Glagah, "Aku memang orang yang tidak beruntung seperti kebanyakan temanku!". Aku tak tahu lagi harus mencurahkan isi hati ini kepada siapa. Semuanya serasa menjauh. Inginku menangis, inginku marah tetapi kepada siapa? Aku merasa bahwa semua masalah ada padaku.

Rabu, 21 Oktober 2020

Wisudawan Teladan

Pada hari ini tepat tiga tahun yang lalu, aku telah resmi mendapatkan gelar akademik Ahli Madya (A.Md) dari Akademi Bahasa Asing Sinema Yogyakarta. Saat itu, aku tidak menyangka bahwa aku bisa mendapatkan gelar Wisudawan Teladan karena menurutku tidak ada yang spesial dari kuliahku. Aku tidak pernah menceburkan diri sebagai aktivis kampus maupun kegiatan senat mahasiswa. Waktuku di kampus hanya untuk kuliah dan mengerjakan tugas. IPK-ku saat itu juga bukan IPK cumlaude, yaitu 3,42. Mungkin saat itu, aku dinilai pantas mendapatkan gelar itu karena aku bisa menyelesaikan Tugas Akhirku tepat pada waktunya. Memang sih saat itu, aku bisa menyelesaikan Tugas Akhirku tepat pada waktunya. Aku menyelesaikan Tugas Akhirku selama 6 bulan (Februari-Agustus 2016). Tugas Akhirku di-acc sama dosen pun pada tanggal 18 Agustus 2016, tepat dua hari setelah aku berulangtahun yang ke-23. Maka dari itu, Tugas Akhir itu aku anggap sebagai kado ulang tahunku saat itu, kado ulang tahun yang tidak umum. Seharusnya aku bisa wisuda pada tahun itu juga. Tetapi karena teman-temanku yang lainnya ada yang belum selesai, akhirnya akupun harus menunggu kurang lebih satu tahun. Tapi tidak apa-apalah. Yang penting kuliahku saat itu aku anggap sudah selesai dan tinggal menunggu prosesi wisuda. Pada tanggal 21 Oktober 2017, akupun akhirnya memakai toga dan selempangan bertuliskan "Wisudawan Teladan". Perjuanganku selama 6 bulan bergelut dengan tulis-menulis dan penelitian pun akhirnya tidak sia-sia. Meskipun IPK-ku tidak cumlaude, aku tetap bangga. Dan saat ini, ilmu yang aku pelajari saat kuliah di jurusan D3 Bahasa Inggris dulu bisa bermanfaat dengan bekerja sebagai guru les privat Bahasa Inggris. Terima kasih bapak, ibu, bapak/ibu dosen, teman-teman seperjuangan; yang saat aku menulis tulisan ini sudah banyak yang menikah; terima kasih atas dukungan kalian. Tanpa dukungan itu, mungkin saat ini aku tak berarti apa-apa. Buat teman-teman seperjuanganku saat itu yang sekarang sudah berkeluarga seperti Dian, Resty, Prita, dik Putri, Ashri, dik Anas, mas Edi, mas Tama (istri Ashri), Shyu dan Ahsan (wisudawan dan wisudawati yang baru saja menjadi pasangan suami istri), semoga keluarga kalian sakinah, mawadah, wa rahmah. Semoga kalian membaca ini. Terima kasih.