Usiaku sudah menginjak 27 tahun. Di usiaku yang sekarang ini, kadang aku berpikir bahwa ternyata aku tidak seberuntung teman-temanku yang pada usia 27 tahun sudah memiliki pekerjaan tetap, sudah berkeluarga, bahkan sudah memiliki anak sedangkan aku belum. Penghasilanku pun tidak sebanyak mereka. Sebagai guru bahasa Inggris yang hanya menunggu panggilan saja cuma dibayar sesuai dengan jumlah pertemuan. Belum lagi menjadi seorang penulis artikel yang kadang artikelnya pun ditolak, ataupun ditayangkan tetapi hanya dibaca dan tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kepuasan tersendiri karena tulisannya bisa dibaca seluruh Indonesia. Kadang aku melihat mereka, akupun bertanya dalam hati, "Kapan aku bisa seperti teman-temanku yang sudah memiliki pekerjaan tetap dan bisa menafkahi keluarganya?". Kuliah sudah tercapai dan mendapatkan gelar akademik pun telah tercapai, tapi itu belum cukup. Menikah. Itulah yang harus tercapai sebelum usia 30 tahun, tetapi bagaimana itu bisa tercapai jika aku sebagai laki-laki ataupun pemimpin rumah tangga belum punya apa-apa? Andai saja dulu aku kuliah S1 di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, saat ini akupun pasti sudah jadi guru Bahasa Inggris di sekolah-sekolah yang tentu saja gajinya lebih besar daripada guru les privat Bahasa Inggris yang hanya bekerja saat ada panggilan saja. Kadang aku ingin marah jika aku ingat ini. Tetapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Beruntunglah mereka yang lulusan Pendidikan Bahasa Inggris. Mereka pasti saat ini sudah menjadi guru Bahasa Inggris yang mengajarnya setiap Senin sampai Sabtu di sekolah. Rasanya menyesal juga mengapa aku dulu tidak ikut SBMPTN supaya aku bisa berkuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, padahal aku yakin kalau kemampuan bahasa Inggrisku sudah bisa disejajarkan dengan mereka yang lulusan Pendidikan Bahasa Inggris ataupun Sastra Inggris. Berbicara dengan bule saja pun aku bisa, menerjemahkan teks dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia ataupun sebaliknya pun aku juga bisa.
Saat aku baca lowongan guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah milik organisasi islam Muhammadiyah, sebenarnya aku ingin mengisi lowongan itu, tetapi apalah daya aku hanya punya ijazah D3 Bahasa Inggris sedangkan yang dibutuhkan adalah lulusan S1. Inginku teriak sekencang-kencangnya di Parangtritis atau Glagah, "Aku memang orang yang tidak beruntung seperti kebanyakan temanku!". Aku tak tahu lagi harus mencurahkan isi hati ini kepada siapa. Semuanya serasa menjauh. Inginku menangis, inginku marah tetapi kepada siapa? Aku merasa bahwa semua masalah ada padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar