Total Tayangan Halaman

Sabtu, 05 November 2022

Kenangan Warung Internet di Malam Minggu

 

Ilustrasi warung internet (warnet). (sumber : hipwee.com)

Pada era sekarang, sudah jarang ditemui beberapa warung internet yang beroperasi di pinggir jalan. Semua sudah tergantikan oleh smartphone yang telah dimiliki hampir semua orang yang memiliki fitur akses internet seperti mengakses internet dengan komputer di warnet. Hal ini sangatlah berbeda dengan beberapa tahun yang lalu saat teknologi belum secanggih saat ini.

Bagi anak-anak remaja yang tumbuh di era 2000-an, pasti sangat mengenal istilah warung internet atau warnet. Apakah kalian sering main ke warnet setelah pulang sekolah? Jika iya, berarti kita seumuran. Pada tahun 2008, warnet adalah tempat yang paling ramai dikunjungi di daerahku. Berbagai kalangan sering datang ke tempat itu secara bergantian hingga malam hari. Saat itu, mengunjungi warnet adalah suatu hal yang menyenangkan karena mengakses internet tidak semudah saat ini karena sudah ada WiFi. Hanya dengan uang 2.000 sampai 3.000 rupiah, semua orang sudah bisa akses internet di warnet. Namun hal yang menyebalkan adalah jika tiba pada saat malam Minggu. Warnet sangat penuh sekali dan harus menunggu satu jam jika tidak ada antrian. Kalau ada antrian, ya bisa berjam-jam. Namun aku pernah beruntung bisa akses internet di warnet pada saat malam Minggu. Karena aku akses internetnya pada jam 6 sore, maka belum ada antrian karena biasanya antriannya di atas jam 7 malam. Pada saat itu, rata-rata yang akses internet adalah anak muda. Beruntung aku bisa dapat bilik komputer jam segitu sehingga aku bisa akses media sosial pada waktu itu, Friendster.

Jika kalian bertanya-tanya apa itu Friendster? Friendster adalah media sosial yang paling banyak digunakan pada masa itu sebelum akhirnya ada Facebook, Twitter, dan Instagram pada masa sekarang. Fiturnya pun sama dengan ketiga media sosial tersebut, yaitu bikin status, dan posting foto. Namun saat ini, warnet tinggallah kenangan. Beberapa warnet yang ada di daerahku telah gulung tikar karena telah tergeser oleh teknologi WiFi yang sudah dipasang di tempat-tempat umum. Meskipun warnet telah tiada, namun kenangannya masih ada di dalam ingatan penggunanya dulu. Malam Minggu rasanya kurang jika tidak main ke warnet, kalau menurutku sih. Kalau kalian gimana nih pengalaman kalian dulu waktu main ke warnet? Boleh diceritakan di kolom komentar. Sekian dulu dari saya dan selamat bermalam Minggu.

Selasa, 05 April 2022

Pengalaman lucu di bulan Ramadhan waktu kecil


Hari ini, tepat pada tanggal 3 Ramadhan 1443 H, aku ingin menceritakan kejadian lucu saat bulan Ramadhan yang aku alami waktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kejadian ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 2004, saat aku duduk di bangku kelas 4 SD. Karena saat itu usiaku sudah menginjak 11 tahun, aku diharuskan untuk berpuasa secara penuh, bukan puasa setengah hari seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Pada saat itu, sekitar jam 12 siang, aku baru pulang dari sekolah. Karena saat itu cuacanya sangat panas sekali, aku pun akhirnya bergegas berjalan menuju dapur untuk membuka lemari es secara diam-diam agar tidak ketahuan ibuku. Karena saat itu ibuku sedang pergi, akupun akhirnya mendapatkan kesempatan untuk membuka lemari es. Namun saat itu, aku lihat ibuku berjalan masuk ke dalam rumah dan akupun bergegas menyembunyikan botol minuman yang tadinya aku pegang. Ibuku yang saat itu ke dapur memergokiku yang saat itu habis meminum separuh air yang ada di dalam botol. Akhirnya aku ketahuan deh sama ibuku kalau aku habis minum.

Kejadian yang sama terjadi di tahun yang sama, namun kejadian itu terjadi pada hari Jum'at sepulang dari sholat Jum'at. Di siang hari yang terik pada saat itu, aku merasa haus yang sudah tidak tertahankan lagi. Ibuku saat itu sedang duduk di ruang keluarga dan menonton televisi. Karena kamarku dekat dengan dapur, akhirnya akupun mengendap-endap untuk mengambil minuman di lemari es. Namun apalah daya, akhirnya ketahuan lagi. Bunyi pintu lemari es yang cukup keras membuat aku hampir ketahuan ibuku.

Rabu, 09 Februari 2022

Virus Corona telah menyerang keluargaku

 Pada hari ini, 9 Februari 2022, merupakan hari yang tidak terduga bagiku. Hari ini rencananya mbah uti (nenekku) seharusnya sudah opname di Rumah Sakit Akademik UGM karena keesokan harinya akan dilakukan operasi agar jantungnya tidak bocor lagi. Setelah sampai di rumah sakit, kami langsung test swab antigen. Aku juga ikut test swab dikarenakan aku akan menunggui mbah uti pada malam hari itu juga. Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 7 pagi karena jam 8 harus sampai di sana. Aku berangkat sama mbah uti dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh bapakku. Namun setelah sampai di tempat pendaftaran, berkas yang akan digunakan oleh mbah uti untuk persyaratan opname ketinggalan. Akupun lalu mengambilnya dengan diantarkan oleh bapak. Setelah aku mengambil berkas persyaratan yang diperlukan, aku dan bapakku pun lalu mampir sejenak ke warung Padang untuk sarapan karena kebetulan sedari rumah aku belum sarapan. Setelah selesai sarapan, perjalanan berlanjut ke rumah sakit. Di sana, mbah uti masih menunggu berkas yang diperlukan ditemani oleh mbak Dewi (bibiku yang kebetulan bekerja sebagai perawat di rumah sakit itu).

Setelah berkas lengkap semua, akhirnya aku dan mbah uti langsung diantarkan menuju tempat untuk test swab yang berada di belakang rumah sakit, tepatnya di seberang parkiran mobil. Kami pun akhirnya melakukan test swab. Setelah test swab, akupun segera pulang ke rumah untuk mengambil motor dan barang-barang keperluanku untuk bermalam di sana. Namun saat aku mempersiapkan segala keperluanku, aku mendapatkan pesan di grup WhatsApp keluarga dari mbak Dewi bahwa hasil test swab antigen mbah uti menunjukkan positif dan hasil test swab antigenku negatif. Untung saja saat itu, aku masih di rumah dan belum berangkat ke sana karena saat itu, aku menunggu telepon dari mbah uti. Akhirnya, operasinya mbah uti diundur sampai batas waktu yang belum ditentukan. Aku sangat terkejut bahwa virus Corona telah menyerang keluargaku lagi. Setelah adikku terpapar virus yang dari China ini pada bulan Oktober 2021, sekarang mbah uti yang terpapar virus Corona, namun tanpa gejala. Ini ceritaku tentang keluargaku yang terpapar virus Corona. Akupun berusaha untuk tenang dan tidak panik setelah mendengar kabar bahwa mbah uti yang usianya telah mencapai 72 tahun terpapar virus Covid-19. Sekian dulu ya ceritanya. Tetap semangat untuk orang-orang yang terpapar virus Covid-19 dimanapun kalian berada. Semoga lekas pulih bumiku. Tetap lakukan protokol kesehatan ya karena pandemi ini belum berlalu.