Pagi itu tanggal 27 Mei 2006, aku bangun sekitar jam 5.53. Saat aku sudah membuka mata, kulihat jam di handphone Nokia 1100 milik ayahku. Saat aku lihat jam di handphone itu, waktu menunjukkan pukul 5.55. Aku pun langsung bersiap-siap pergi ke kamar mandi untuk mandi karena saat itu hari Sabtu masih masuk sekolah. Saat akan berdiri, tiba-tiba terjadi goncangan hebat dan aku kira kalau itu karena ibuku lupa mematikan mesin cucinya (karena saat itu aku baru punya mesin cuci yang dibelinya sekitar tahun 2005). Ayah dan ibuku panik, sementara aku pun menutupi diriku dengan kasur kecil yang berisikan kapuk sedangkan adikku yang kala itu berusia 6 tahun masih tidur. Akhirnya akupun diseret oleh ayahku dan adikku pun digendong oleh beliau, dan kamipun keluar lewat pintu belakang. Di luar rumah, banyak tetangga yang sedih karena kehilangan rumahnya. Beberapa rumah disekitar rumahku ada yang rusak parah, tetapi beruntung rumahku tidak rusak parah. Sekitar pukul 7.30, aku melihat sebagian tetanggaku berlarian ke arah barat sambil berteriak "Segoro kidul mbludak!!!!". Akhirnya orang-orang yang masih berdiri di depan rumahku mengalami kepanikan, begitupun juga dengan keluargaku. Ayah dan ibuku pun lalu mengambil sepeda motor yang ada di rumah. Beliaupun juga mengambil sebuah radio kecil dari warung elektronik miliknya karena saat itu ayahku sudah merintis usaha toko elektronik sejak setahun sebelumnya. Akhirnya kamipun mengungsi di lapangan Ganjuran, Bantul. Sesaat kemudian, baru kami mengungsi di tempat saudara yang ada di Belan, tempatnya tidak jauh dari lapangan itu. Disana, aku lihat rumah saudaraku juga rusak parah sampai-sampai meteran listrik pun jatuh. Para tetangga sekitar juga pada di luar rumah. Di tempat itu, aku mendengarkan radio yang aku bawa dari rumah untuk mendapatkan informasi lanjutan terkait gempa susulan dan isu tsunami. Pada malam harinya, akupun tidur ditempat saudaraku itu. Tempatnya pun sempit dan berdesak-desakan karena tendanya kecil. Beruntung keesokan harinya, ayahku datang untuk menjemputku dan akhirnya aku pulang ke rumahku sendiri dan tiduran diemperan rumahku yang sekarang digunakan orang tuaku untuk jualan bensin. Beberapa hari kemudian, aku dan keluargaku pun mengunjungi rumah kakek dan nenekku dari pihak ibu di Condongcatur. Aku dan keluargaku pun menjalani hari di tempat itu karena kebetulan rumah kakek dan nenekku tidak rusak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar