Total Tayangan Halaman

Jumat, 08 Mei 2020

Selamat Jalan Lord Didi Kempot

Didi Kempot saat menggelar konser di The Pallas, SCBD, Jakarta Selatan pada tanggal 6 Desember 2019. (Sumber : Kompas.com)

Tanggal 5 Mei 2020 silam, para Sobat Ambyar (sebutan untuk penikmat lagu-lagu Didi Kempot) berduka. Pasalnya, penyanyi campursari Didi Prasetyo atau yang terkenal dengan nama panggung Didi Kempot meninggal dunia. Kabar tersebut sangat mengejutkan banyak pihak karena kepergiannya yang sangat mendadak. Didi Kempot meninggal pada usia 53 tahun, sama dengan usia alm. Mamiek Prakoso, pelawak Srimulat yang juga kakaknya yang telah wafat pada tahun 2014 silam. Pagi itu, aku sangat terkejut saat simbah uti (nenek) memberitahukan kepada saya sambil menangis bahwa Didi Kempot meninggal dunia. Aku terkejut dengan kabar itu. Beruntung tanggal 2 Desember 2019, aku masih sempat menonton konser beliau di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM, Yogyakarta. Tapi sialnya aku tidak bisa mengabadikannya karena lensa kamera belakang di handphone-ku pecah sejak 3 bulan sebelum konser itu di Kaliurang. Membicarakan soal Didi Kempot, ada sedikit pengalamanku dengan salah satu lagunya. Saat itu, aku masih kelas 1 SD. Saat itu, di sekolahku ada pelajaran menyanyi. Teman-temanku semuanya menyanyikan lagu anak-anak, sementara aku malah menyanyikan lagunya Didi Kempot yang berjudul Stasiun Balapan, karena saat itu lagu tersebut sedang populer. Padahal aku saat itu cuma asal nyanyi saja, jadi tidak tahu maksud dari lagu tersebut. Tapi teman-temanku saat itu pada ketawa mendengarkan aku menyanyikan lagu itu. Pada akhir tahun 2019 silam, band-ku mengcover salah satu lagu dari Didi Kempot, yaitu Kangen Nickerie. Berikut videonya :



Selain Kangen Nickerie, ada tiga lagu lain yang saya suka. Berikut daftarnya :

1. Stasiun Balapan




Nah, ini dia lagu yang aku ceritakan sebelumnya. Lagu yang penuh kenangan sekali saat aku masih SD. Lagu yang aku nyanyikan juga saat pelajaran menyanyi di sekolah. Aku baru tahu maksud dari lagu ini saat aku sudah dewasa saat ini, yaitu tentang ditinggal seorang kekasih di sebuah stasiun kereta api. Aku juga baru tahu kalau Stasiun Balapan ini memang benar-benar ada. Stasiun ini terletak di Kota Surakarta atau Solo, Jawa Tengah.

2. Sewu Kutho



Lagu ini awalnya aku temukan di komputernya ayahku sekitar tahun 2003. Aku dengerin terus-menerus dan pada akhirnya aku suka. Saat SMA, aku diberitahukan oleh guru kesenianku bahwa lagu ini ternyata merupakan lagu terjemahan dari lagu pop tahun 1980-an yang dipopulerkan oleh alm. Arie Wibowo, penyanyi yang juga populer dengan lagu Madu dan Racun. Berikut aku selipkan juga lagu aslinya sebelum diterjemahkan oleh Didi Kempot ke dalam bahasa Jawa :



Kalian baru tahu kan kalau lagu Sewu Kutho itu merupakan terjemahan dari lagu Walau Sekejap milik alm. Arie Wibowo? Aku juga baru tahu setelah guru kesenianku dulu bilang kalau ini lagu terjemahan. Lalu, aku cari deh di YouTube, ternyata beneran. Penyanyi aslinya juga sudah tiada pada tahun 2011 silam. Beliau juga berasal dari Jawa Tengah, sama dengan Didi Kempot, cuma kalau Arie Wibowo asalnya dari Kota Salatiga.

3. Tanjung Mas Ninggal Janji




Dulu waktu aku ngantor di sebuah kantor yang terletak di Jl. Magelang, aku sering mendengarkan lagu ini sembari menjalankan trading saham, karena pekerjaanku memang saat itu trading saham. Tapi pada awal November 2019, aku keluar karena tidak diperbolehkan bekerja seperti itu sama orang tua. Lagu ini awalnya aku dengarkan di sebuah toko kaset sebelah tempat tinggal alm. pakdheku (kakaknya ayahku). Waktu dengar berita bahwa Didi Kempot meninggal kemarin, aku langsung cover lagu ini dengan gitar akustik untuk membuat status belasungkawaku di WhatsApp.

Selamat jalan om Didi Kempot. Karya-karya indahmu akan selalu ku kenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar