Total Tayangan Halaman

Minggu, 26 Juli 2020

Dulu anak SD tidak boleh punya HP sendiri, sekarang anak SD harus punya HP sendiri untuk sekolah

Di masa pandemi Covid-19 ini, sektor di segala bidang termasuk bidang pendidikan melakukan aktivitasnya secara online (daring). Beberapa siswa pun juga melakukan pembelajaran secara online melalui ponsel pintarnya. Untuk orang yang secara ekonomi mampu, mungkin tidak masalah. Namun jika untuk orang yang secara ekonomi masih mengalami kekurangan, maka akan menjadi masalah. Saat ini, handphone sepertinya adalah barang wajib yang dimiliki semua orang dari berbagai profesi, termasuk pelajar. Dulu waktu aku masih SD, aku minta orang tua untuk dibelikan handphone tetapi tetap saja orang tua tidak mau membelikan meskipun sampai merengek. Saat itu aku minta dibelikan handphone dikarenakan teman sepermainanku dulu sudah punya handphone. Alasan orang tuaku saat itu adalah anak kecil tidak boleh membawa handphone. Saat itu, aku sedang duduk di bangku kelas 4 SD sekitar tahun 2004. Untungnya saat itu belum ada pandemi Covid-19 jadi masih bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Handphone pun belum seperti sekarang. Saat itu, handphone masih hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS tetapi sudah menjadi barang yang mewah. Mungkin saja kalau pandemi Covid-19 sudah terjadi pada tahun 2004, mungkin kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan lewat telepon dan SMS. Aku kira itu tidak mungkin. Masa iya seorang guru dengan siswa yang lumayan banyak dari beberapa kelas mau menelepon murid-muridnya panjang lebar untuk menjelaskan pelajaran? Berapa banyak pulsa yang dihabiskannya? Saat itu juga belum ada WhatsApp seperti sekarang yang memberikan fasilitas menelepon dan mengirimkan pesan secara gratis, bahkan bisa video call. Mungkin yang merasakan pada jaman itu  pasti tahulah. Memang saat itu rata-rata siswa di sekolahku jarang yang memakai handphone termasuk aku. Karena mungkin saja karena sekolahku dulu di perkampungan jadi ya siswa-siswanya pun rata-rata dari golongan yang kelas ekonominya menengah ke bawah. Meskipun dari golongan yang menengah ke bawah, tapi jangan salah. Siswanya pun ada yang sudah diterima di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Saat ini, dia juga masih tinggal di desaku karena kebetulan dia adalah tetanggaku. Hanya aku yang sudah tinggal di desa yang agak jauh karena kondisi yang darurat pada awal tahun 2018 silam. Beruntunglah kalian yang hidup di masa ini masih bisa belajar meskipun hanya lewat online. Jaman aku sekolah dulu, tidak ada yang namanya sekolah online. Saat gempa bumi tanggal 27 Mei 2006 saja, sekolah diliburkan tanpa adanya pembelajaran apapun. Semua gurunya sibuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya masing-masing. Saat itu hari Sabtu masih ada kegiatan belajar mengajar karena saat itu sekolah berlangsung 6 hari (kalau sekarang sekolah ada yang 5 hari). Seharusnya saat itu ada kegiatan belajar mengajar, tetapi diliburkan secara mendadak karena bencana itu. Sama kan dengan saat ini? Tetapi kalau saat ini sekolah diliburkan karena pandemi Covid-19. Itu saja sedikit cerita dariku. Tidak perlu aku ceritakan lagi kapan akhirnya aku dibelikan handphone karena sudah ada di postingan sebelumnya yang berjudul "Handphoneku dari tahun 2007 sampai 2010". Baik, sekian dulu dariku dan tetap semangat untuk belajar walaupun di rumah. Untuk pak Nadiem Makarim, tolong dipertimbangkan lagi bagaimana caranya anak yang tidak memiliki gadget supaya bisa mengikuti kegiatan belajar lagi. Terima kasih dan selamat berakhir pekan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar