Total Tayangan Halaman

Selasa, 07 Juli 2020

Pengalaman waktu sunat

Tepat pada hari ini 14 tahun yang lalu, aku menjalani sebuah ritual yang hanya dialami anak laki-laki sekali dalam seumur hidupnya, yaitu sunatan atau khitanan. Sunatan itu dilaksanakan di rumah kakek dan nenekku di Condongcatur, karena rumahku di Bantul rusak parah karena gempa Jogja yang terjadi hampir 2 bulan sebelumnya. Kebetulan saat itu sedang libur sekolah menjelang kenaikan kelas dari kelas 5 ke kelas 6. Sebelum sunat, bapakku bertanya kepadaku, "Kamu mau minta apa nanti kalau habis sunat?". Aku pun meminta 3 buah kaset dari grup band yang saat itu sedang populer, yaitu Samsons, Ungu, dan Kerispatih. Saat prosesi khitanan, akupun sedikit takut dengan jarum suntik yang akan disuntikkan untuk membius supaya burungku tidak sakit waktu dipotong. Saat disuntik itu, akupun berteriak-teriak menyebut nama Allah. Beberapa saat kemudian, prosesi khitanannya pun selesai. Setelah selesai, kaset yang aku minta pun langsung ada sekaligus tape recordernya untuk memutar kasetnya. Akhirnya aku putar terus kaset itu untuk hiburan disaat kegiatanku saat itu hanya tiduran. Maklum saat itu belum ada smartphone tidak seperti sekarang. Handphone saja saat itu yang dipakai orang kalau tidak Nokia ya Sony Ericsson, dan sebagai anak jaman old aku belum dibelikan handphone oleh orang tua meskipun sudah merengek karena saat itu aku masih kelas 5 SD. Seharian aktivitasku hanya di tempat tidur memutar kaset yang dibelikan oleh bapakku tadi secara bergantian karena kebetulan tape recorder itu kecil dan mengunakan tenaga baterai. Sampai-sampai sepupuku yang datang saat itu ikut mendengarkan kaset yang aku putar tadi sambil melihat teks yang ada di cover kaset yang bisa dilipat-lipat itu (yang mengalami jaman kaset dulu pasti tahu; yang isinya lirik lagu sama credit title). Setelah side A sudah selesai, kasetnya lalu aku balik ke side B. Begitu saja terus aktivitasku saat itu saat memutar 2 kaset itu. Setelah bosan mendengarkan lagunya Samsons (bosan bukan berarti tidak mau mendengarkan lagi lho), digantilah kaset milik Ungu. Sampai pada hari berikutnya, bapakku membawakan sebuah televisi yang kecil dengan gambar hitam putih dan juga VCD. Kaset yang dibawakannya pun kaset Samsons juga. Ungu dan Kerispatih berada dalam satu kaset CD. Akhirnya saat itu aku bisa menonton TV juga karena saat itu bisa nonton TV tanpa antena di Condongcatur. Selain nonton TV, aku juga memutar kaset VCD tadi. Beberapa hari kemudian, akupun sudah membaik dan akupun pulang ke Bantul karena waktu liburan hampir habis. Baik, sekian dulu ya. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar