Total Tayangan Halaman

Selasa, 22 Desember 2020

Miracle Of Destruction manggung di Colomadu dan Tragedi Tsunami Tanjung Lesung


Pada 22 Desember 2018, Miracle Of Destruction tampil di acara "Honda Sport Motoshow 2018". Aku dan teman-teman satu bandku saat itu berangkat dari Yogyakarta menuju lokasi manggung di Pabrik Gula Colomadu sekitar pukul 13.00 dengan mengendarai mobil. Kami menempuh perjalanan selama sekitar satu sampai dua jam karena kondisi jalan yang begitu padat saat melewati Klaten. Kami sampai di lokasi pun sekitar pukul 15.00, dan band kami dijadwalkan main sekitar pukul 17.00. Kami membawakan kira-kira dua lagu, yaitu "Negeriku" (lagu karya kami sendiri), dan "Enter Sandman" (lagu karya grup musik rock asal Amerika, Metallica). Kami pun turun panggung kira-kira pukul 17.30 dan kami pun santai sejenak sambil menikmati suasana yang ada di tempat itu seperti melihat pameran motor. Pukul 18.00, kami meninggalkan Pabrik Gula Colomadu dan melakukan perjalanan pulang ke Yogyakarta. Sesampainya di Sukoharjo, kami singgah sebentar untuk makan di sebuah restoran cepat saji sembari berbincang-bincang. Sekitar pukul 20.00, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan akhirnya kamipun sampai di Yogyakarta sekitar pukul 22.00. Sesampainya di rumah manajer band yang lokasinya di Giwangan, akupun mengambil motor dan helm lalu aku pulang menuju rumahku di Condongcatur.

Keesokan harinya, pada pukul 05.30 seusai sholat subuh, aku membuka Instagram-ku dan betapa terkejutnya aku saat melihat postingannya mas Erix Soekamti, vokalis dan bassistnya Endank Soekamti. Mas Erix mengunggah postingan di Instagram yang menuliskan bahwa grup band Seventeen terkena ombak saat sedang manggung di Pantai Carita (berdasarkan postingan itu). Dalam hatipun aku berkata, "Semoga pada baik-baik saja". Saat aku menonton televisi pada pukul 07.00, salah satu stasiun televisi itu memberitakan tentang bencana yang menimpa grup band Seventeen itu. Bersamaan dengan itu, beredar pula video kejadian itu di WhatsApp. Ternyata, ekspektasiku saat itu lain dengan kejadian sebenarnya. Tersiar kabar di Facebook bahwa Seventeen telah kehilangan Bani (bassist) dan Oki (road manager). Itulah berita yang aku baca di internet bahwa Bani dan Oki telah ditemukan meninggal dunia. Beberapa jam kemudian Herman (gitaris) dan Ujang (crew) juga ditemukan meninggal. Keesokan harinya pada tanggal 24 Desember 2018, ditemukan lagi personil Seventeen yang meninggal dunia, yaitu Andi (drummer). Istri Ifan (vokalis) yang bernama Dylan Sahara juga ditemukan meninggal pada hari itu juga. Hanya Ifan yang selamat dan masih hidup sampai saat ini. Selain Seventeen, pelawak kondang Aa Jimmy juga ditemukan meninggal dunia bersama dengan istri dan kedua anaknya. Hanya anaknya yang nomor 3 yang selamat karena saat itu ia berada di hotel bersama pengasuhnya. Selamat jalan untuk para korban yang aku sebutkan tadi. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin.

Kamis, 29 Oktober 2020

Kapan aku bisa seperti mereka yang keinginannya sudah tercapai?

Usiaku sudah menginjak 27 tahun. Di usiaku yang sekarang ini, kadang aku berpikir bahwa ternyata aku tidak seberuntung teman-temanku yang pada usia 27 tahun sudah memiliki pekerjaan tetap, sudah berkeluarga, bahkan sudah memiliki anak sedangkan aku belum. Penghasilanku pun tidak sebanyak mereka. Sebagai guru bahasa Inggris yang hanya menunggu panggilan saja cuma dibayar sesuai dengan jumlah pertemuan. Belum lagi menjadi seorang penulis artikel yang kadang artikelnya pun ditolak, ataupun ditayangkan tetapi hanya dibaca dan tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kepuasan tersendiri karena tulisannya bisa dibaca seluruh Indonesia. Kadang aku melihat mereka, akupun bertanya dalam hati, "Kapan aku bisa seperti teman-temanku yang sudah memiliki pekerjaan tetap dan bisa menafkahi keluarganya?". Kuliah sudah tercapai dan mendapatkan gelar akademik pun telah tercapai, tapi itu belum cukup. Menikah. Itulah yang harus tercapai sebelum usia 30 tahun, tetapi bagaimana itu bisa tercapai jika aku sebagai laki-laki ataupun pemimpin rumah tangga belum punya apa-apa? Andai saja dulu aku kuliah S1 di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, saat ini akupun pasti sudah jadi guru Bahasa Inggris di sekolah-sekolah yang tentu saja gajinya lebih besar daripada guru les privat Bahasa Inggris yang hanya bekerja saat ada panggilan saja. Kadang aku ingin marah jika aku ingat ini. Tetapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Beruntunglah mereka yang lulusan Pendidikan Bahasa Inggris. Mereka pasti saat ini sudah menjadi guru Bahasa Inggris yang mengajarnya setiap Senin sampai Sabtu di sekolah. Rasanya menyesal juga mengapa aku dulu tidak ikut SBMPTN supaya aku bisa berkuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, padahal aku yakin kalau kemampuan bahasa Inggrisku sudah bisa disejajarkan dengan mereka yang lulusan Pendidikan Bahasa Inggris ataupun Sastra Inggris. Berbicara dengan bule saja pun aku bisa, menerjemahkan teks dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia ataupun sebaliknya pun aku juga bisa.

Saat aku baca lowongan guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah milik organisasi islam Muhammadiyah, sebenarnya aku ingin mengisi lowongan itu, tetapi apalah daya aku hanya punya ijazah D3 Bahasa Inggris sedangkan yang dibutuhkan adalah lulusan S1. Inginku teriak sekencang-kencangnya di Parangtritis atau Glagah, "Aku memang orang yang tidak beruntung seperti kebanyakan temanku!". Aku tak tahu lagi harus mencurahkan isi hati ini kepada siapa. Semuanya serasa menjauh. Inginku menangis, inginku marah tetapi kepada siapa? Aku merasa bahwa semua masalah ada padaku.

Rabu, 21 Oktober 2020

Wisudawan Teladan

Pada hari ini tepat tiga tahun yang lalu, aku telah resmi mendapatkan gelar akademik Ahli Madya (A.Md) dari Akademi Bahasa Asing Sinema Yogyakarta. Saat itu, aku tidak menyangka bahwa aku bisa mendapatkan gelar Wisudawan Teladan karena menurutku tidak ada yang spesial dari kuliahku. Aku tidak pernah menceburkan diri sebagai aktivis kampus maupun kegiatan senat mahasiswa. Waktuku di kampus hanya untuk kuliah dan mengerjakan tugas. IPK-ku saat itu juga bukan IPK cumlaude, yaitu 3,42. Mungkin saat itu, aku dinilai pantas mendapatkan gelar itu karena aku bisa menyelesaikan Tugas Akhirku tepat pada waktunya. Memang sih saat itu, aku bisa menyelesaikan Tugas Akhirku tepat pada waktunya. Aku menyelesaikan Tugas Akhirku selama 6 bulan (Februari-Agustus 2016). Tugas Akhirku di-acc sama dosen pun pada tanggal 18 Agustus 2016, tepat dua hari setelah aku berulangtahun yang ke-23. Maka dari itu, Tugas Akhir itu aku anggap sebagai kado ulang tahunku saat itu, kado ulang tahun yang tidak umum. Seharusnya aku bisa wisuda pada tahun itu juga. Tetapi karena teman-temanku yang lainnya ada yang belum selesai, akhirnya akupun harus menunggu kurang lebih satu tahun. Tapi tidak apa-apalah. Yang penting kuliahku saat itu aku anggap sudah selesai dan tinggal menunggu prosesi wisuda. Pada tanggal 21 Oktober 2017, akupun akhirnya memakai toga dan selempangan bertuliskan "Wisudawan Teladan". Perjuanganku selama 6 bulan bergelut dengan tulis-menulis dan penelitian pun akhirnya tidak sia-sia. Meskipun IPK-ku tidak cumlaude, aku tetap bangga. Dan saat ini, ilmu yang aku pelajari saat kuliah di jurusan D3 Bahasa Inggris dulu bisa bermanfaat dengan bekerja sebagai guru les privat Bahasa Inggris. Terima kasih bapak, ibu, bapak/ibu dosen, teman-teman seperjuangan; yang saat aku menulis tulisan ini sudah banyak yang menikah; terima kasih atas dukungan kalian. Tanpa dukungan itu, mungkin saat ini aku tak berarti apa-apa. Buat teman-teman seperjuanganku saat itu yang sekarang sudah berkeluarga seperti Dian, Resty, Prita, dik Putri, Ashri, dik Anas, mas Edi, mas Tama (istri Ashri), Shyu dan Ahsan (wisudawan dan wisudawati yang baru saja menjadi pasangan suami istri), semoga keluarga kalian sakinah, mawadah, wa rahmah. Semoga kalian membaca ini. Terima kasih.



Jumat, 04 September 2020

Aku dan sepupuku


Aku punya sepupu laki-laki, bernama Budi Gunawan (namanya seperti polisi yang beberapa tahun yang lalu sempat viral). Ada yang memanggilnya Budi, ada juga yang memanggilnya Gunawan atau Gugun (kalau aku manggilnya mas Gun sih). Dia adalah anak dari alm. pakdhe Wahyudi. Bapaknya adalah kakak dari bapakku, tetapi sayangnya pada tanggal 9 Desember 2018 beliau telah dipanggil Yang Maha Kuasa karena sakit yang telah lama dideritanya. Aku dan mas Gun telah akrab sejak lama sebelum kami memiliki seorang adik. Usia kami terpaut empat tahun dan aku lebih tua darinya tetapi aku memanggilnya dengan sebutan mas karena dia anaknya pakdhe. Karena adikku seorang perempuan, maka aku lebih sering main sama mas Gun apalagi kalau waktu main musik. Aku main drum sambil nyanyi, sedangkan mas Gun yang main gitar. Karena kebetulan di rumahnya saat itu ada dua alat musik yaitu drum dan gitar. Sesekali dia juga pernah mencoba bermain drum. Jauh sebelum itu, kamipun menghabiskan masa kecil kami dengan menonton film kartun karena saat itu film kartun masih banyak ditayangkan di televisi. Tahun 2005, bapaknya membeli sebuah drumset. Seharusnya drumsetnya untuk dia belajar bermain drum, tetapi dia malah senang main gitar. Akhirnya, diam-diam pun aku mencoba memainkan drum itu yang akhirnya akupun senang dan ingin memainkannya terus. Dari situlah akhirnya aku belajar drum secara otodidak bergantian dengan mas Gun. Saat aku dan dia sedang senang-senangnya belajar drum, tiba-tiba ada gempa besar tanggal 27 Mei 2006. Rumahku dan rumahnya mas Gun pun jadi korbannya, tetapi drumnya pun tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Akhirnya kamipun tidak bermain drum untuk sementara waktu. Keakraban kamipun semakin erat saat itu. Kami pernah tidur satu tenda di tenda yang kecil saat itu di tempat saudara yang ada di Belan. Tenda itu sempit karena ditempati beberapa orang, yaitu keluarganya budhe Harti, budhe Nastiti, mas Gun, mas Pitra, dan aku. Pagi itu sekitar jam 04.30 pada tanggal 28 Mei 2006, hujan sangat deras dan airpun masih bisa masuk ke dalam tenda karena saking derasnya. Beruntung pagi itu, bapakku datang dan menjemputku sehingga aku terbebas dari desakan orang-orang di tenda itu. Bapakku pun juga mengajak mas Gun untuk ikut tetapi dia tidak mau. Akhirnya hanya aku saja yang bebas dari sempitnya tenda itu dan bisa tiduran di depan rumahku sendiri sambil mendengarkan radio kecilku. Saat aku sunat pada tanggal 7 Juli 2006, dia pun datang membesuk. Padahal saat itu aku sunatnya di Condongcatur, tempat simbahku yang saat ini aku tempati. Dua tahun kemudian, kamipun bermain band dengan mengajak tetangganya mas Gun yang kebetulan juga kakak adik. Mas Gun sebagai gitaris, sedangkan aku sebagai drummer. Dan dua orang kakak adik itu yang bernama Wahyu dan Bangkit sebagai gitaris dan bassist. Kami berempat pun latihan setiap malam Minggu karena saat itu kami masih sekolah. Mas Gun kelas 6 SD, aku kelas 2 SMP (harusnya aku kelas 1 SMA sih, tapi karena dulu pernah nggak naik kelas waktu kelas 3 SD jadi masih kelas 2 SMP), Wahyu kelas 2 SMP, dan Bangkit kelas 3 SD (kalau nggak salah, soalnya aku sedikit lupa). Lagu-lagu yang kami bawakan pun adalah lagu-lagu populer pada tahun itu seperti lagu-lagu dari The Changcuters, ST 12, dll. Saat aku kelas 1 SMA pada tahun 2010, kamipun sudah tidak ngeband bareng lagi, dan akupun sudah tidak menginap di rumahnya mas Gun lagi. Meskipun begitu, aku masih suka main ke rumahnya karena aku tidak hanya akrab dengan mas Gun, tetapi juga dengan bapaknya. Aku sering sharing apapun yang aku tahu dengan pakdheku itu, kadang juga main gitar sampai sore. Sekarang, mas Gun sudah lulus kuliah dan kalau malam jualan Thai Tea di Taman Kuliner Ngangkruksari (bekas pasar Ngangkruk). Aku sering beli Thai Tea-nya dulu saat aku habis latihan band. Sayangnya saat dia wisuda beberapa bulan yang lalu sebelum pandemi Covid-19, bapaknya sudah tidak ada. Aku merasa bersyukur saat aku wisuda D3 pada tanggal 21 Oktober 2017 lalu karena aku masih didampingi oleh orang tua yang utuh. Saat bapaknya meninggal, akupun juga ikut merasakan kehilangan karena sekitar tahun 2017, aku pernah main band sama pakdhe Wahyudi. Beliau sebagai vokalisnya dan aku sebagai gitarisnya. Tetapi kebersamaan itu tidak lama karena pada awal 2018, aku tinggal di Condongcatur menemani mbah uti yang tinggal sendiri pasca wafatnya mbah kakung pada tanggal 3 Januari 2018, dan pakdhe Wahyudi pun sakitnya tambah parah sesaat sebelumnya sudah beberapa kali melakukan operasi pengangkatan tumor di kakinya. Mas Gun pun saat ini selalu membantu bandku saat ada acara manggung. Dia selalu menjadi tukang dokumentasi. Itulah keakrabanku dengan mas Gun sebagai saudara. Sekarang kita sama-sama sudah beranjak dewasa dan punya urusan masing-masing, tetapi keakraban kita selalu ada.

Jumat, 21 Agustus 2020

Lagu anak-anak yang sangat populer di tahun 1990-an sampai tahun 2000-an

 Saat ini, lagu anak-anak memang jarang sekali terdengar di televisi maupun radio. Semua media tersebut dipenuhi oleh lagu-lagu orang dewasa yang bertemakan cinta. Tidak hanya lagu, film kartun pun seolah-olah pun hilang dari televisi. Saat ini film kartun pun yang tersisa hanya Doraemon dan Upin dan Ipin. Beruntunglah kita yang mengalami masa anak-anak pada tahun 2000-an, karena banyak sekali lagu anak-anak yang terdengar di televisi maupun radio saat itu. Saat itu, teknologi belum berkembang seperti sekarang. Belum ada media sosial, YouTube, maupun media-media lain yang bersifat digital. Berikut lagu anak-anak yang populer pada tahun 1990-an dan 2000-an.


1. Sherina - Kembali Ke Sekolah



2. Tasya - Libur Telah Tiba



3. Joshua - Air



4. Tina Toon - Bolo Bolo



Mana nih lagu favorit kamu waktu kecil? Kalau favoritku sih yang nomor 1. Secara, aku masih punya kasetnya yang nomor 1 dan sampai saat ini masih aku dengarkan karena waktu aku mencari bendera untuk dikibarkan pada awal Agustus lalu, aku tidak sengaja menemukan sebuah kaset tanpa cover yang ternyata itu adalah kaset Sherina yang albumnya berjudul "Andai Aku Besar Nanti", yang aku pinjam dari seseorang yang saat ini orangnya sudah tidak tinggal di Jogja lagi. Anak jaman dulu itu memang kebiasaan kalau sudah pinjam pasti lupa mengembalikan. Silahkan berkomentar mana lagu yang kalian suka dalam daftar ini, atau lagu anak-anak yang lain mungkin.

Minggu, 16 Agustus 2020

Cerita hidupku

Tepat pada hari ini tahun 1993, aku dilahirkan di Kabupaten Bantul. Namaku Nurrahman Fadholi, dulu waktu SD sampai SMA, aku dipanggil sesuai dengan nama belakangku. Hal itu karena aku merasa nyaman saat guruku waktu SD memanggilku dengan nama tersebut. Lama-kelamaan, akupun bosan dipanggil dengan nama itu lagi dan akhirnya saat aku kuliah, aku dipanggil dengan nama yang sesuai dengan nama depanku, atau hanya dipanggil Nur saja. Pendidikanku dimulai dari TK Masyithoh Greges sekitar tahun 1998. Pada saat aku masuk TK, krisis moneter sedang melanda Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Untungnya saat itu ayahku tidak terkena imbas dari krisis moneter itu karena ayahku seorang pegawai negeri. Setelah lulus dari TK pada tahun 2000, akupun masuk SD Negeri 2 Kretek. Saat bersekolah di SD itu, aku pernah tidak naik kelas pada saat aku duduk di kelas 3. Saat itu, teman-temanku rata-rata pada naik ke kelas 4 sedangkan aku bersama tiga temanku yang lain masih tetap di kelas 3. Untungnya aku mengalami tinggal kelas hanya sekali. Akhirnya saat kenaikan kelas tahun depan pada tahun 2004, aku dinyatakan naik ke kelas 4. Dan itu berlanjut sampai aku naik ke kelas 6. Pada saat aku kelas 5, terjadi sebuah bencana gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya. Rumah dan sekolahku pun tak luput dari bencana itu. Akhirnya kegiatan belajar mengajar pun diliburkan sampai sekitar pertengahan bulan Juni 2006. Sekitar pertengahan bulan Juli 2006, akupun masuk sekolah lagi setelah sekian lama diliburkan karena kenaikan kelas dan bencana gempa bumi 5,9 SR yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kondisi sekolahku pun berubah akibat bencana itu. Karena kelasku rusak parah, kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak kelas 6 pun dipindahkan ke ruang kelas 3, dan anak-anak kelas 3 pun sebagian belajar di tenda. Pada bulan Mei 2007, akupun mengikuti Ujian Nasional dan sekitar bulan Juli 2007, semua siswa yang saat itu berjumlah 32 orang dinyatakan lulus semua. Setelah lulus SD, akupun mendaftarkan diri di MTs Negeri Pundong (sekarang MTs Negeri 2 Bantul). Di sekolah itu, akupun menemukan hobi yang aku minati sampai saat ini, yaitu musik. Saat bersekolah di sekolah itu, akupun menjadi penabuh drum dalam beberapa pementasan sekolah. Lagu-lagu yang dibawakannya pun adalah lagu-lagu yang sedang populer kala itu seperti lagunya Peterpan, Kangen Band, ST 12, dll. Akupun lulus dari sekolah itu sekitar bulan Juni 2010 meskipun dengan ujian ulangan, bukan kejar paket B karena aku saat itu tidak lulus lantaran nilaiku yang Matematika dan IPA jeblok. Tetapi alhamdulillah aku bisa memperbaikinya. Pada bulan Juli 2010, aku masuk SMA Negeri 1 Kretek. Di sekolah itu, hobiku nge-band pun masih menggebu-gebu. Akupun menemukan teman yang juga main band yaitu Cahyo dan Febri. Mereka sering mengajakku main musik dikala pulang sekolah. Aku nge-band sama mereka pun sampai kami lulus dari sekolah itu pada bulan Juni 2013. Setelah lulus dari SMA, akupun melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Karena hobiku yang main musik itu, orang tuaku pun mendaftarkanku di ISI Yogyakarta, tetapi akhirnya gagal karena persaingan yang ketat. Akhirnya setelah aku mempertimbangkan masak-masak, aku mendaftarkan diri di ABA Sinema Yogyakarta (sekarang Universitas Amikom Purwokerto PSDKU Yogyakarta) pada bulan Agustus 2013. Disitulah aku belajar Bahasa Inggris dan membuat film, mulai dari penulisan cerita sampai tahap produksi. Tahun 2016, akupun dinyatakan lulus dan satu tahun kemudian pada tanggal 21 Oktober 2017, aku diwisuda dan meraih gelar Ahli Madya (A.Md). Dan mulai tahun 2017 sampai sekarang, aku menjadi mahasiswa di Universitas Terbuka. Tepat pada hari ini, aku berulang tahun yang ke-27.




Jumat, 14 Agustus 2020

Pengalamanku berfoto dengan bapak Sri Sultan Hamengkubuwono X

 

Aku bersama pak Sri Sultan HB X, gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
sekaligus raja Kesultanan Yogyakarta di Balairung UGM.

Tahun lalu pada tanggal 14 Agustus, aku mengikuti sebuah acara Aubade Pancasila di Balairung UGM. Aubade itu diikuti oleh banyak peserta dari beberapa kelompok paduan suara. Saat itu, aku masih tergabung dalam kelompok Paduan Suara Mahasiswa (PSM) dari kampus Universitas Terbuka. Kebetulan tamu dalam acara tersebut adalah salah satunya pak Sri Sultan Hamengkubuwono X (kalau kalian orang asli Jogja pasti tahulah siapa beliau). Acara tersebut berlangsung sekitar jam 3 sore dan berakhir kira-kira jam 4. Saat acara itu berakhir, akupun mengejar pak Sultan yang saat itu sudah berlalu untuk minta foto. Karena beliau tergesa-gesa dan tidak ada orang yang bisa dimintai tolong untuk mengambil gambar, akhirnya akupun hanya selfie dengan beliau. Fotonya bisa kalian lihat di atas. Untungnya beliau bisa meluangkan waktu untuk berfoto denganku, salah satu warga beliau yang tinggal di Kabupaten Sleman, meskipun KTP-nya masih KTP Kabupaten Bantul. Uniknya, pada saat itu lagi-lagi aku berfoto dengan seorang gubernur karena pada tahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 12 Agustus 2018, aku berfoto dengan pak Rano Karno. Tetapi saat itu, pak Rano Karno sudah tidak menjabat sebagai Gubernur Banten lagi karena sudah main film Si Doel lagi. Ini sangatlah membanggakan bagiku karena jarang-jarang ada warga bisa berfoto dengan seorang gubernur. Tidak hanya aku, teman-temanku pun juga. Bahkan, anak-anak SD pun juga berfoto dengan beliau. Tidak hanya berfoto dengan gubernur, tetapi juga berfoto dengan pak menteri. Menteri yang berfoto denganku yaitu pak Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika. Tetapi sayangnya fotonya ada di handphone temanku dan aku lupa untuk memintanya. Mungkin saat ini sudah dihapus. Akhirnya kesampaian juga angan-anganku untuk bisa bertemu dengan pak Sri Sultan Hamengkubuwono X. Memang dulu aku pernah berangan-angan untuk bertemu dengan raja Yogyakarta sekaligus orang nomor satu di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan pada acara itulah, akhirnya aku bisa bertemu dengan pak Sri Sultan. Baik segitu dulu ya. Mungkin akan ada pengalaman lain yang bisa aku tulis disini. Sampai jumpa.

Kamis, 13 Agustus 2020

Senangnya bisa foto bareng Jikustik

 Siapa disini yang tidak tahu grup band Jikustik? Aku kira pasti semuanya tahu. Grup band itu pernah populer dengan lagu hits yang berjudul Maaf, Seribu Tahun Lamanya, Pandangi Langit Malam Ini, dan Puisi pada era 2000-an awal sampai pertengahan. Saat itu, vokalis Jikustik masih diduduki oleh Pongki Barata, dan pemain bass masih diduduki oleh Aji Mirza Hakim atau Icha. Mereka berdualah yang menciptakan mayoritas hits-hits Jikustik. Sayangnya mereka berdua telah hengkang dari grup band asal Yogyakarta itu. Pongki keluar pada tahun 2009, sedangkan Icha keluar pada tahun 2012. Setelah keluarnya Pongki, posisi vokalis diisi oleh Brian Prasetyoadi, penyanyi baru asal Jogja. Posisi bassist yang dulu ditempati oleh Icha masih ditempati oleh additional bassist yang bernama Abadi Bayu. Pada tanggal 31 Desember 2019 silam, Dinas Pariwisata Sleman ingin membuat acara untuk menyemarakkan malam pergantian tahun dari tahun 2019 ke 2020 dengan Jikustik sebagai bintang tamunya. Saat itu, Dispar sedang mencari band pendamping untuk Jikustik. Akhirnya bandku yang bernama Miracle Of Destruction atau M.O.D pun ditunjuk sebagai salah satu band pendamping Jikustik. Aku tidak menyangka kalau bandku bisa menjadi band pendamping dari sebuah band yang melegenda di Yogyakarta maupun Indonesia. Selain itu, akupun bisa berfoto dengan mereka beberapa saat setelah bandku main dan sebelum Jikustik main. Akhirnya bisa juga aku berfoto dengan grup musik yang aku kagumi saat SD. Aku pernah memiliki kasetnya Jikustik album Seribu Tahun. Andai saja kasetnya itu masih ada, pasti bisa aku bawa saat acara itu sekalian aku mintakan tanda tangan kepada Adhit, Dadik, dan Carlo (personil Jikustik yang masih aktif dari album pertama sampai sekarang). Tetapi sayangnya kaset itu sudah hilang entah kemana karena sudah 19 atau 20 tahun yang lalu aku memilikinya.

Dari kiri ke kanan : Haly (panitia penyelenggara), Pam (bassist M.O.D), Pras (vokalis M.O.D),
Brian (vokalis Jikustik), Carlo (drummer Jikustik), Adhit (keyboardist Jikustik), Nur (drummer M.O.D)

Sebenarnya ada banyak sih fotonya. Hanya saja foto yang lain masih tertinggal di handphoneku yang lama, yang 3 bulan sebelum acara itu terjatuh di Kaliurang juga dan lensa kamera belakangnya pecah. Semoga saja handphone itu masih ada dan kemungkinan akan saya cari lagi besok kalau aku pulang ke Bantul lagi. Untuk yang mau lihat fotonya yang lain, bisa kunjungi akun Instagramku di @nurrahmanfadholi. Oke segitu dulu dariku. Terima kasih.

Minggu, 02 Agustus 2020

Friendster saat ini hanya tinggal kenangan saja

Friendster - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sebelum populernya Facebook dan Twitter, Friendster saat itu menjadi satu-satunya jejaring sosial di internet. Friendster pertama kali didirikan pada tahun 2002. Jadi, Friendster bisa dipastikan berdiri lebih dulu daripada Facebook, karena Facebook didirikan pada tahun 2005. Friendster memang kedengarannya sangat asing bagi anak jaman now (kelahiran 2004 ke atas) yang mungkin rata-rata sudah mengenal Facebook, tetapi untuk anak jaman old (kelahiran 1980 s/d 1993) seumuranku mungkin pernah memakainya apalagi yang sering bolak-balik ke warnet. Seperti halnya Facebook, Friendster ini memiliki fitur menambahkan teman dan foto. Saat pertama kali aku menggunakan Friendster pada tahun 2008, akun Friendster-ku belum aku berikan foto profil dikarenakan aku tidak memiliki handphone yang memiliki kamera. Setelah aku memiliki handphone Nokia 3230 pada awal tahun 2009, akupun berfoto dan foto itu aku pasang di akun FS-ku (FS; singkatan Friendster) saat itu. Akhirnya pengguna Friendster lain yang penasaran dengan wajahku pun tahu. Setiap ada moment apapun, akupun mengunggahnya di akun FS-ku tersebut (mungkin kalau sekarang diposting di Instagram). Mengakses akun tersebut pun tidak sesering mengakses Facebook atau Instagram seperti saat ini karena Facebook dan Instagram saat ini sudah tersedia dalam aplikasi smartphone. Mengakses akun Friendster saat itu hanya saat penggunanya berada dalam kawasan yang ada koneksi internetnya. Saat itu yang ada koneksi internet hanyalah warung internet (warnet), dan untuk mengaksesnya pun tidak sebebas sekarang karena saat itu akses internet di warnet memakan biaya 2.000 rupiah per jam. Jadi kalau sudah lebih dari satu jam, maka akan dikenakan biaya tambahan 2 kali lipatnya kalau tambah satu jam lagi. Pada saat lebaran tahun 2009, akupun perlahan-lahan meninggalkan akun Friendster-ku karena aku mulai membuat akun Facebook. Saat itu, memang Friendster juga sudah perlahan-lahan mendapat pesaing yaitu Facebook. Friendster juga perlahan-lahan ditinggalkan oleh penggunanya. Baru saja aku mendapatkan informasi bahwa Friendster saat ini tidak dapat diakses lagi sejak tanggal 14 Juni 2015. Banyak kenangan yang aku lalui bersama Friendster dan tak akan terlupakan.

Pemberitahuan bahwa Friendster tidak dapat diakses.

Baik. Demikian saja cerita dariku tentang Friendster. Terima kasih dan selamat menikmati daging kurbannya.

Minggu, 26 Juli 2020

Dulu anak SD tidak boleh punya HP sendiri, sekarang anak SD harus punya HP sendiri untuk sekolah

Di masa pandemi Covid-19 ini, sektor di segala bidang termasuk bidang pendidikan melakukan aktivitasnya secara online (daring). Beberapa siswa pun juga melakukan pembelajaran secara online melalui ponsel pintarnya. Untuk orang yang secara ekonomi mampu, mungkin tidak masalah. Namun jika untuk orang yang secara ekonomi masih mengalami kekurangan, maka akan menjadi masalah. Saat ini, handphone sepertinya adalah barang wajib yang dimiliki semua orang dari berbagai profesi, termasuk pelajar. Dulu waktu aku masih SD, aku minta orang tua untuk dibelikan handphone tetapi tetap saja orang tua tidak mau membelikan meskipun sampai merengek. Saat itu aku minta dibelikan handphone dikarenakan teman sepermainanku dulu sudah punya handphone. Alasan orang tuaku saat itu adalah anak kecil tidak boleh membawa handphone. Saat itu, aku sedang duduk di bangku kelas 4 SD sekitar tahun 2004. Untungnya saat itu belum ada pandemi Covid-19 jadi masih bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Handphone pun belum seperti sekarang. Saat itu, handphone masih hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS tetapi sudah menjadi barang yang mewah. Mungkin saja kalau pandemi Covid-19 sudah terjadi pada tahun 2004, mungkin kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan lewat telepon dan SMS. Aku kira itu tidak mungkin. Masa iya seorang guru dengan siswa yang lumayan banyak dari beberapa kelas mau menelepon murid-muridnya panjang lebar untuk menjelaskan pelajaran? Berapa banyak pulsa yang dihabiskannya? Saat itu juga belum ada WhatsApp seperti sekarang yang memberikan fasilitas menelepon dan mengirimkan pesan secara gratis, bahkan bisa video call. Mungkin yang merasakan pada jaman itu  pasti tahulah. Memang saat itu rata-rata siswa di sekolahku jarang yang memakai handphone termasuk aku. Karena mungkin saja karena sekolahku dulu di perkampungan jadi ya siswa-siswanya pun rata-rata dari golongan yang kelas ekonominya menengah ke bawah. Meskipun dari golongan yang menengah ke bawah, tapi jangan salah. Siswanya pun ada yang sudah diterima di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Saat ini, dia juga masih tinggal di desaku karena kebetulan dia adalah tetanggaku. Hanya aku yang sudah tinggal di desa yang agak jauh karena kondisi yang darurat pada awal tahun 2018 silam. Beruntunglah kalian yang hidup di masa ini masih bisa belajar meskipun hanya lewat online. Jaman aku sekolah dulu, tidak ada yang namanya sekolah online. Saat gempa bumi tanggal 27 Mei 2006 saja, sekolah diliburkan tanpa adanya pembelajaran apapun. Semua gurunya sibuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya masing-masing. Saat itu hari Sabtu masih ada kegiatan belajar mengajar karena saat itu sekolah berlangsung 6 hari (kalau sekarang sekolah ada yang 5 hari). Seharusnya saat itu ada kegiatan belajar mengajar, tetapi diliburkan secara mendadak karena bencana itu. Sama kan dengan saat ini? Tetapi kalau saat ini sekolah diliburkan karena pandemi Covid-19. Itu saja sedikit cerita dariku. Tidak perlu aku ceritakan lagi kapan akhirnya aku dibelikan handphone karena sudah ada di postingan sebelumnya yang berjudul "Handphoneku dari tahun 2007 sampai 2010". Baik, sekian dulu dariku dan tetap semangat untuk belajar walaupun di rumah. Untuk pak Nadiem Makarim, tolong dipertimbangkan lagi bagaimana caranya anak yang tidak memiliki gadget supaya bisa mengikuti kegiatan belajar lagi. Terima kasih dan selamat berakhir pekan.

Minggu, 19 Juli 2020

Handphoneku dari tahun 2007 sampai 2010

Saat ini, handphone sudah menjadi barang yang dibutuhkan untuk melakukan komunikasi jarak jauh. Handphone mulai diperkenalkan sekitar tahun 2000 (kalau menurutku sih). Hanya saja, pada tahun itu, hanya orang-orang tertentu yang menggunakannya. Saat itu, aku yang masih berusia 7 tahun pun dilarang memilikinya karena handphone tidak diperuntukkan untuk anak-anak. Kalau mau main game pun harus meminjam hp punya bapak. Pada tahun 2007, aku baru diperbolehkan untuk memiliki handphone sendiri karena saat itu aku sudah lulus SD dan mau memasuki SMP. Pernah beberapa kali aku ganti hp, itupun karena rusak. Berikut daftar handphone yang pernah aku miliki.

1. Nokia 6030

PULSA - Spesifikasi Nokia 6030 - Nokia 6030

Handphone ini aku miliki pada tahun 2007, saat aku telah menyelesaikan Ujian Nasional dan telah dinyatakan lulus. Dengan handphone ini, aku bisa mendengarkan radio, dan main game selain untuk menelepon dan SMS teman. Pada tahun 2008, aku menemukan fitur lain di hp ini yaitu browsing internet dengan jaringan GPRS. Tetapi sayangnya saat aku sedang senang-senangnya browsing internet dan download game, handphone ini kecebur bak mandi karena kelalaianku dan tidak bisa diperbaiki lagi.

2. Nokia 8250
PULSA - Spesifikasi Nokia 8250 - Nokia 8250

Handphone ini sebenarnya handphone yang sudah ada di tahun 2000-an. Om ku dulu juga pernah memilikinya. Aku memiliki handphone ini pada tahun 2008, saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP.  Dengan handphone ini, aku menulis SMS dengan huruf yang sedikit alay (bahasa anak jaman sekarang). Handphone ini juga tidak berumur panjang di tanganku karena kerusakan pada speaker setelah tidak sengaja terjatuh di lantai (kalau smartphone sekarang paling ya kaca LCD-nya yang pecah).

3. Nokia 1208
PULSA - Spesifikasi Nokia 1208 - Nokia 1208

Memasuki semester genap di kelas 8 (kelas 2 SMP), aku menggunakan handphone ini. Handphone ini pun lumayan berumur panjang karena aku telah belajar dari pengalaman sebelumnya. Dengan handphone ini, aku hanya bisa mengirim SMS dan telepon saja, tetapi disaat itulah aku memang sedang gila telepon dan SMS untuk sekedar curhat ataupun cerita apapun. Apalagi saat itu XL sedang mengadakan program gratis nelpon ke sesama XL dari jam 12 malam sampai jam 5 pagi, seperti halnya kuota internet malam kalau sekarang. Maklum, saat itu aku telah berusia 15 tahun. Mungkin saja saat itu aku sedang merasakan ketertarikan dengan lawan jenis.

4. Nokia 3230
Harga Nokia 3230 Murah Terbaru dan Spesifikasi | Priceprice Indonesia

Memasuki tahun 2009, aku telah menggunakan handphone ini karena bapakku meminta aku yang memakainya, sedangkan bapakku memakai handphoneku yang sebelumnya. Saat itu aku duduk di bangku kelas 9. Dengan handphone ini, aku bisa mendengarkan radio dan musik, juga bisa browsing internet dengan jaringan GPRS. Saat pertama kali aku memiliki handphone ini, handphone ini belum bisa digunakan untuk internet karena setting GPRS yang gagal terus. Akupun harus pergi ke warnet saat ingin browsing internet. Ada sebuah pengalaman yang tak terlupakan saat aku menggunakan handphone ini, yaitu aku memasukkan lagu Mulan Kwok milik Rendy Jerk yang waktu itu sedang populer di kalangan teman-teman sekolahku. Lagu itu aku temukan di sebuah komputer di warnet, yang kemudian aku copy di kartu memoriku dengan menggunakan card reader. Beberapa hari kemudian, lagu ini dihapus sama bapakku karena memiliki lirik yang tidak baik. Penasaran dengan lagunya, cari saja di YouTube. Handphone ini bisa bertahan sampai aku lulus SMP dan duduk di bangku kelas 10 (kelas 1 SMA).

Itulah tadi handphone yang pernah aku miliki. Meskipun tidak secanggih smartphone sekarang, tetapi handphone tersebut memberikan kesan tersendiri bagi penggunanya. Bagi yang merasa pernah memiliki handphone-handphone tersebut, boleh tulis di kolom komentar. Sekian dan terima kasih. Selamat berhari Minggu.

Misteri Si Doel Anak Sekolahan Musim 5 yang Tak Pernah Ditayangkan di Mana-mana Lagi

si doel anak sekolahan musim 5 si doel anak sekolahan episode 2 musim 2 review sinetron sinopsis jalan cerita mojok.co


Sinetron Si Doel Anak Sekolahan adalah sinetron yang sangat populer pada tahun 1990-an. Sinetron ini pertama kali ditayangkan pada tahun 1994 di stasiun televisi swasta RCTI, dan telah tayang selama 7 musim. Sempat berpindah stasiun televisi dari RCTI ke Indosiar pada saat penayangan Si Doel Anak Sekolahan musim 5 sampai musim 7 (Si Doel Anak Gedongan). Saat ini, sinetron Si Doel Anak Sekolahan kembali tayang di stasiun televisi RCTI sampai pada musim 7, tetapi sayangnya ada yang ganjil.
Setiap saya lihat di televisi, Si Doel Anak Sekolahan musim 5 tidak pernah ditayangkan di RCTI. Jadi, penayangan sinetron itu lompat dari musim 4 ke musim 6, lalu diteruskan ke Si Doel Anak Gedongan. Pernah saya mendapatkan macam-macam informasi terkait tidak ditayangkannya sinetron Si Doel Anak Sekolahan 5. Menurut Rano Karno, sang pembuat sinetron legendaris itu, master file-nya sampai saat ini berada di Indosiar karena stasiun televisi yang menayangkannya adalah Indosiar. Tetapi anehnya, mengapa yang musim 6 dan 7 bisa ditayangkan dengan full episode? Padahal musim tersebut dulu juga ditayangkan di Indosiar. Kok bisa dibeli sama RCTI? Lalu yang musim 5 ke mana?
Lalu saya mendapat informasi lagi bahwa file master-nya rusak dan pihak Karnos Film (rumah produksi sinetron itu) tidak memiliki backup file-nya. Saya masih bingung ini, emangnya master file-nya itu dalam bentuk apa sih? CD? Betamax? Terus itu jumlah episodenya kan 33, apakah dari 33 episode itu rusak semua?
Sinetron Hidayah dan Si Yoyo 1 sampai 3 yang diproduksi antara 2003 sampai 2007 saja masih terlihat bagus dan tidak terlihat ada kerusakan sedikit pun dari videonya. Dua sinetron tersebut saat ini bisa ditonton di YouTube. Masak sinetron yang diproduksi sekitar tahun 2000 sampai 2001 sudah rusak? Padahal selisih waktu produksinya tidak jauh.
Misteri Si Doel Anak Sekolahan musim 5 bikin sejumlah orang penasaran. Simbah uti saya yang suka menonton sinetron itu pun pernah berkomentar, “Masak Sarah udah sampai rumah? Padahal di musim sebelumnya diceritakan baru mau pergi ke Belanda karena ayahnya sakit di sana.” Jadi aneh kan ceritanya.
Topik ini pernah dibahas di salah satu video YouTube. Di video itu saya ikut berkomentar bahwa saya telah mengirim surat kepada Indosiar untuk menanyakan nasib Si Doel Anak Sekolahan musim 5. Banyak sekali balasan komentar meminta saya memberitahukan isi surat balasan dari Indosiar. Tapi apa daya, tidak ada surat yang masuk lewat kolong pintu rumah saya dengan alamat pengirim Indosiar.
Selanjutnya, saya dapat informasi lagi saat saya berkomentar di live Instagram Suti Karno (pemeran Atun dalam sinetron itu) bahwa yang Si Doel Anak Sekolahan musim 5 masih menjadi hak Indosiar. Padahal seperti yang saya jelaskan sebelumnya, musim 6 dan 7 juga haknya Indosiar, tapi sudah beberapa kali tayang di RCTI, bahkan sekarang juga ada di RCTI+ (aplikasi menonton dari MNC Group yang membawahi RCTI, MNC TV, dan GTV). Sinetron Muslimah dan Inayah yang saat ini ditayangkan di ANTV, dulu juga ditayangkan di Indosiar. Tapi kenapa malah bisa tayang di ANTV full episode? Apakah Indosiar sedang berbaik hati memberikan master file sinetron tersebut kepada ANTV?
Terakhir, saya mendapat informasi bahwa master file Si Doel musim 5 hilang. Ini sangat membingungkan karena ada yang bilang rusak, hilang, dan blablabla. Pernah saya mengirim surat juga ke Karnos Film dan RCTI, tapi ya sama seperti saat saya mengirimkan surat kepada Indosiar, tidak ada balasan. Apa jangan-jangan, surat saya tidak sampai karena saya mengirimkannya hanya menggunakan perangko senilai 5 ribu perak?
Akhirnya, saya mengirim email ke RCTI+, dan kali ini ada balasan berisi tautan ke tayangan Si Doel musim 5 di RCTI+. Tetapi balasannya tidak meyakinkan karena waktu saya buka, meskipun bertuliskan musim 5, tetapi yang ada malah musim 6.
Dulu pernah ada informasi bahwa ada yang mengunggah sinetron Si Doel Anak Sekolahan 5 di YouTube dengan judul Si Doel Millenium. Tetapi saat saya cari, sampai saat ini tidak ada. Atau mungkin sudah dihapus kali ya?
Semoga saja nanti jika master file-nya ditemukan (itu pun kalau beneran hilang) bisa segera ditayangkan supaya tidak membuat penasaran pemirsa Si Doel. Siapa tahu lagi bongkar-bongkar arsip, eh tahu-tahu nemu master file Si Doel Anak Sekolahan 5.
(Artikel ini pernah dimuat di Terminal Mojok pada tanggal 21 Juni 2020)

Jumat, 17 Juli 2020

Selamat jalan mpok Omaswati

Komedian Omaswati alias Omas.
Omaswati, pelawak dan seniman lenong Betawi
Tadi malam, saat aku sedang menulis sebuah novel, yang mungkin nantinya akan menjadi novel perdanaku (itupun kalau diterima sama penerbit. Ya semoga saja), handphoneku berbunyi kencang sekali. Saat aku buka, ternyata ada sebuah notifikasi berita duka. Seorang pelawak bernama Omaswati, yang juga seniman lenong Betawi itu telah wafat. Adik bang haji Mandra itu wafat sekitar pukul 19.30 (menurut Mastur, adik almh. Omas yang juga menjadi komedian). Aku tidak menyangka sama sekali malam itu. Memang beberapa kali, beliau tidak tampil di televisi. Beberapa hari sebelum itu, aku menonton sebuah sinetronnya yang berjudul "Omas Jadi Artis" di YouTube. Sinetron itu pernah ditayangkan di stasiun televisi SCTV sekitar tahun 2005. Dalam sinetron itu, almarhumah beradu akting dengan almh. Hj. Nori, atau mpok Nori yang juga berprofesi sebagai pemain lenong. Buat yang mau nonton, silahkan cari sendiri di YouTube ya, karena videonya tidak akan aku sematkan disini. Video yang akan aku sematkan mungkin hanya sebuah video cuplikan waktu beliau masih main lenong bersama H. Malih dan H. Bolot. Berikut videonya:



Video ini kemungkinan diambil pada tahun 1990-an. Yang paling lucu dalam video ini adalah saat almarhumah berbicara dengan H. Bolot, tetapi sayangnya tidak pernah nyambung karena H. Bolot yang selalu tidak mendengar. Selamat jalan mpok Omas. Semoga arwahmu diterima oleh Allah SWT. Karyamu akan selalu ku kenang. Meskipun aku orang Jawa, tetapi aku juga suka lenong Betawi.

Minggu, 12 Juli 2020

Lagu-lagu Indonesia yang populer pada tahun 2007

Setiap lagu memiliki masa untuk populer. Saat lagu tersebut sedang populer, pasti bisa menjadi kesan tersendiri bagi yang mendengarkan pada tahun-tahun tertentu, misalnya lagu-lagu yang populer pada tahun 1980-an seperti lagu-lagunya Chrisye, Nia Daniati, Betharia Sonata, dan Iwan Fals, juga lagu-lagu yang populer pada tahun 1990-an seperti lagu-lagunya Dewa 19, Slank, KLa Project, Padi, Sheila On 7, dan lain-lain pasti meninggalkan kesan tersendiri bagi penikmatnya kala itu. Jika pendengarnya yang mengalami masa muda pada kala itu dan mendengarkannya lagi pada masa sekarang, mungkin bisa saja akan membawa kenangan tersendiri saat lagu tersebut populer. Seperti halnya pendengar lain. Akupun juga memiliki kesan tersendiri dengan lagu-lagu yang populer pada tahun 2007, khususnya lagu-lagu Indonesia. Saat itu, aku telah selesai mengikuti Ujian Nasional dan baru pertama kalinya aku memiliki handphone bermerk Nokia seri 6030. Sambil menunggu waktu pendaftaran siswa baru di jenjang SMP, akupun menggunakan handphone itu untuk mendengarkan radio. Melalui radio, akupun mengetahui beberapa lagu Indonesia yang sering diputar kala itu atau sedang populer. Tidak hanya radio, televisi juga turut andil dalam mempopulerkan lagu-lagu tersebut melalui MTV. Apa saja lagu-lagunya? Berikut daftarnya :

1. Anima - Bintang



2. Five Minutes - Bertahan



3. Ihsan - Bunga (Karena Aku Lelaki)



4. Tompi - Salahkah



5. The Titans - Rasa Ini



6. Dygta - Kesepian



7. Putih - Sampai Mati



8. Repvblik - Hanya Ingin Kau Tahu



9. Dewa 19 - Dewi



10. Monita - Kekasih Sejati




Udah segitu dulu ya. Ini kalau aku sebutkan semua banyak sekali, jadi aku rekap jadi sepuluh saja. Jika kalian punya tambahan lagu yang pernah kalian dengarkan di tahun 2007, boleh tuliskan di kolom komentar. Sekian dan terima kasih. Selamat bernostalgia.

Kamis, 09 Juli 2020

Kenangan yang membekas di ingatanku saat SMP

Memang benar kalau masa sekolah itu adalah masa yang paling indah, seperti dalam lirik lagu Kisah Kasih di Sekolah karya Obbie Mesakh. Di sekolah, kita bisa bergaul dengan banyak orang yang menjadi teman kita di sekolah itu. Pada saat aku SMP, perkembangan teknologi belum seperti sekarang dan bisa juga kalau dibilang sedikit primitif. Maka dari itu, tidak ada siswa yang pegang smartphone saat itu. Disini, aku mau bercerita kenangan apa yang ada di pikiranku saat SMP dulu.

1. SMS pakai huruf-huruf alay

Huruf alay ternyata tidak hanya digunakan sama anak jaman sekarang, tetapi juga saat aku masih sekolah pun juga kalau SMS menggunakan huruf itu. Mungkin tidak perlu dijelaskan secara detail bagaimana penulisannya, karena diantara kalian pasti sudah mengetahuinya, atau ini aku kasih gambarnya aja.

Na'udzubillahi min Alay - Kelas Bahasa Indonesia

2. Pinjam meminjam kaset CD

Mungkin kalau sekarang mau mendengarkan lagu yang kalian inginkan, kalian pasti download lagu di internet, atau mendengarkan lagu lewat platform digital seperti Spotify, JOOX, Deezer, dll. Kalau jaman aku SMP, mereka-mereka itu belum ada. Jadi, kalau mau mendengarkan lagu harus membeli CD-nya. Tidak mampu beli yang original, bajakan pun jadi. Saat itu, aku memiliki beberapa koleksi CD dari artis yang sedang populer waktu itu seperti D'Masiv, Bondan Prakoso and Fade 2 Black, dan Yovie and Nuno. CD itu aku beli di toko VCD yang ada dipinggir jalan seharga 4.000 rupiah. Teman-temanku saat itu suka banget dengan koleksi CD yang aku punya, dan akhirnya mereka pun meminjam salah satu dari CD yang aku punya. Seperti kebanyakan orang, kadang mereka kalau meminjam pasti lupa mengembalikan.

3. Menonton televisi yang beritanya tentang misteri lagunya Gaby




Diantara kalian pasti tahu lagu ini. Lagu ini dulu sempat viral (kalau bahasa sekarang) sekitar tahun 2008. Saat itu, aku masih kelas 2 SMP. Dulu sempat heboh banget sampai-sampai radio dan televisi pun ikut heboh dengan memberitakan tentang lagu ini. Lagu ini heboh dikarenakan yang menyanyikan lagu ini adalah seorang siswi SMA yang bernama Gaby. Diyakini Gaby ini telah meninggal karena bunuh diri karena ditinggal kekasihnya. Sampai sekarang, belum ada kejelasan tentang sebenarnya lagu itu milik siapa? Dan sosok Gaby itu apakah benar-benar ada atau hanyalah fiktif seperti tokoh dalam negeri dongeng? Hanya Allah SWT yang tahu.

4. Selalu tahu lagu-lagu hits lewat MTV

Acara musik saat ini yang kalian kenal pasti Dahsyat, ataupun Inbox. Tapi perlu kalian ketahui jauh sebelum mereka berdua ada, dulu ada acara musik yang pastinya berbeda dari mereka berdua, yaitu MTV. Di MTV ini, kita akan disuguhi musik secara penuh tidak ada masak-masakan ataupun gosip sana-sini. Yang ada hanya seputar musik, mulai proses pembuatan album, proses pengerjaan komposisinya, dan lagu-lagu yang sedang hits kala itu. Pokoknya asyik deh kalau sudah nongkrongin MTV.

5. Rela nungguin berjam-jam agar bisa akses internet di warung internet

Kalau sekarang kita enak karena sudah ada WiFi. Bahkan smartphone kita sudah diberi fitur WiFi untuk bisa akses internet dimanapun dan kapanpun asalkan tempat yang kita tempati ada koneksi WiFi-nya. Jauh sebelum itu, kalian yang sejaman dengan aku pasti mengalami bagaimana kita harus bersabar agar kita bisa mengakses internet di warnet jika biliknya sudah penuh. Tidak hanya itu, jam aksesnya pun dibatasi karena saat itu harga pemakaiannya adalah 2.000 rupiah untuk pemakaian satu jam. Jadi, jika mau menambah satu jam lagi harus membayar 2.000 rupiah lagi. Kalau sekarang pakai WiFi.id dari Telkom cuma bayar 5.000 rupiah untuk satu hari, itupun bayarnya bisa potong pulsa dari handphone.

Oke, segitu dulu ceritanya ya. Mungkin kalau kalian mengalami seperti yang aku tulis ini bisa komentar di kolom komentar. Sekian dan terima kasih.

Selasa, 07 Juli 2020

Pengalaman waktu sunat

Tepat pada hari ini 14 tahun yang lalu, aku menjalani sebuah ritual yang hanya dialami anak laki-laki sekali dalam seumur hidupnya, yaitu sunatan atau khitanan. Sunatan itu dilaksanakan di rumah kakek dan nenekku di Condongcatur, karena rumahku di Bantul rusak parah karena gempa Jogja yang terjadi hampir 2 bulan sebelumnya. Kebetulan saat itu sedang libur sekolah menjelang kenaikan kelas dari kelas 5 ke kelas 6. Sebelum sunat, bapakku bertanya kepadaku, "Kamu mau minta apa nanti kalau habis sunat?". Aku pun meminta 3 buah kaset dari grup band yang saat itu sedang populer, yaitu Samsons, Ungu, dan Kerispatih. Saat prosesi khitanan, akupun sedikit takut dengan jarum suntik yang akan disuntikkan untuk membius supaya burungku tidak sakit waktu dipotong. Saat disuntik itu, akupun berteriak-teriak menyebut nama Allah. Beberapa saat kemudian, prosesi khitanannya pun selesai. Setelah selesai, kaset yang aku minta pun langsung ada sekaligus tape recordernya untuk memutar kasetnya. Akhirnya aku putar terus kaset itu untuk hiburan disaat kegiatanku saat itu hanya tiduran. Maklum saat itu belum ada smartphone tidak seperti sekarang. Handphone saja saat itu yang dipakai orang kalau tidak Nokia ya Sony Ericsson, dan sebagai anak jaman old aku belum dibelikan handphone oleh orang tua meskipun sudah merengek karena saat itu aku masih kelas 5 SD. Seharian aktivitasku hanya di tempat tidur memutar kaset yang dibelikan oleh bapakku tadi secara bergantian karena kebetulan tape recorder itu kecil dan mengunakan tenaga baterai. Sampai-sampai sepupuku yang datang saat itu ikut mendengarkan kaset yang aku putar tadi sambil melihat teks yang ada di cover kaset yang bisa dilipat-lipat itu (yang mengalami jaman kaset dulu pasti tahu; yang isinya lirik lagu sama credit title). Setelah side A sudah selesai, kasetnya lalu aku balik ke side B. Begitu saja terus aktivitasku saat itu saat memutar 2 kaset itu. Setelah bosan mendengarkan lagunya Samsons (bosan bukan berarti tidak mau mendengarkan lagi lho), digantilah kaset milik Ungu. Sampai pada hari berikutnya, bapakku membawakan sebuah televisi yang kecil dengan gambar hitam putih dan juga VCD. Kaset yang dibawakannya pun kaset Samsons juga. Ungu dan Kerispatih berada dalam satu kaset CD. Akhirnya saat itu aku bisa menonton TV juga karena saat itu bisa nonton TV tanpa antena di Condongcatur. Selain nonton TV, aku juga memutar kaset VCD tadi. Beberapa hari kemudian, akupun sudah membaik dan akupun pulang ke Bantul karena waktu liburan hampir habis. Baik, sekian dulu ya. Terima kasih.